UMKM Terimbas Krisis, Ini Bedanya antara Krisis 1998 dan Pandemi Covid-19

Kompas.com - 19/05/2020, 15:11 WIB
Ilustrasi UMKM shutterstock.comIlustrasi UMKM

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM) menjadi salah satu sektor yang terpuruk akibat pandemi Covid-19, membuat roda ekonomi Indonesia berputar lamban.


Chairman Infobank Institute, Eko B. Supriyanto mengatakan krisis ekonomi yang terjadi saat ini jelas berbeda dibandingkan dari krisis yang sebelumnya yang juga pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

"Jika pada krisis sebelumnya tahun 1998 dan 2008 UMKM masih punya daya tahan yang kuat, karena pada waktu itu yang terkena adalah sektor korporasi besar, tapi sekarang sektor UMKM lah yang paling terkena,” ujarnya saat pressconference virtual, Selasa (19/5/2020).

Baca juga: Di Tengah Pandemi Covid-19, Budi Karya Ajak UMKM Rambah E-Commerce

Lalu, dari sisi keuangan, Eko berpendapat juga berbeda. Saat ini UMKM terkena problem cash atau kehabisan uang tunai, sehingga para UMKM saat ini mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya.

Selanjutnya mengenai kredit macet, Eko mengatakan pemerintah sudah memberi relaksasi. Berdasarkan data yang ia peroleh saat ini, total kredit perbankan terdampak Covid-19 yang telah berhasil direstrukturisasi hingga minggu (10/5/2020) mencapai Rp 336,97 triliun. Jumlah kredit itu berasal dari 3,88 juta debitur.

“Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah apakah UMKM masih punya modal kerja atau tidak? Semoga covid-19 segera berlalu dan UMKM tidak kehabisan uang tunai untuk modal,” jelas dia.

Sementara itu, Kepala Ekonom BNI, Ryan Kiryanto mengatakan sebetulnya peluang UMKM di tahun ini masih ada untuk bertahan. Hal itu sejalan dengan keluarnya kebijakan pemerintah dan OJK yang memberikan banyak keringanan dan kelonggaran kepada pelaku UMKM, terutama yang terdampak Covid19.

"Bantuan likuiditas, keringanan pajak, penundaan pembayaran kewajiban kepada bank sesuai dengan POJK 11/2020 pasti bisa meringankan beban keuangan mereka," kata Ryan.

Namun, lanjut dia, ke depan yang lebih penting diperhatikan kepada UMKM adalah bagaimana pemerintah membantu UMKM dengan kondisi normal baru atau new normal. Hal itu penting dilakukan supaya para pelaku UMKM nantinya tidak gagap atau shock ketika terjadi banyak perubahan pasca-Covid19.

Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan memberi pelatihan-pelatihan kepada para pelaku UMKM agar melek digital.

"Pelatihan teknik produksi, marketing dan akuntasi dengan menggunakan perangkat digital harus sudah dikenalkan kepada mereka (UMKM), karena perilaku konsumen berubah dengan adanya situasi normal yang baru (new normal)," jelas dia.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X