Ekonomi Dulu atau Pandemi Dulu? Ini Kata Staf Menkeu

Kompas.com - 23/05/2020, 13:27 WIB
Direktur Center for Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo dalam wawancara bersama awak media di Jakarta, Selasa (1/10/2019). KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYADirektur Center for Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo dalam wawancara bersama awak media di Jakarta, Selasa (1/10/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo buka suara soal anggapan ekonomi versus pandemi. Masyarakat beranggapan pandemi harus didahulukan saat masa krisis Covid-19, tetapi pemerintah dianggap berpikiran sebaliknya.

Menurut Yustinus, tidak ada ekonomi versus pandemi. Pasalnya yang terjadi saat pandemi Covid-19 adalah ekonomi pandemi. Yakni kebijakan ekonomi sepenuhnya diarahkan untuk mengatasi masalah kesehatan, jaminan sosial, dan dunia usaha.

"Refleksi untuk diri kita, benarkah ekonomi itu adalah sesuatu yang harus berhadapan dengan pandemi? Ekonomi dulu atau pandemi dulu? Seolah-olah begitu anggapannya. Tidak. Yang terjadi sekarang adalah ekonomi pandemi," kata Yustinus dalam konferensi video, Jumat (22/5/2020).

Baca juga: Tren Belaja Online Bisa Dongkrak Ekonomi RI di Masa Pandemi?

Yustinus mengatakan, ekonomi pandemi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Ekonomi pandemi mengingatkannya pada paham negara kesejahteraan, ada peluang untuk memperkuat peran negara melalui redistribusi dan penataan kelembagaan.

"Kita enggak bisa pisah-pisahkan itu. Orang bisa mati karena Covid-19, juga bisa mati karena enggak bisa makan. Maka harus kita pikirkan betul dua-duanya bisa berjalan beriringan, tentu dengan SOP protokol yang baik," papar Yustinus.

Lebih lanjut Yustinus memaparkan, pasca pandemi mungkin terwujud dunia baru yang meninjau ulang gagasan lama. Misalnya, kualitas diperlukan tidak cukup hanya ditunjukkan dengan angka pertumbuhan ekonomi mencapai 5 persen atau bahkan 7 persen.

"Lalu isu lingkungan hidup jadi tantangan, manusia setir pembangunan juga penting mengembalikan lagi bukan sekedar objek, tapi juga sebagai subjek. Yang penting selanjutnya adalah membangun sistem jaminan sosial dan kesehatan yang universal. Ini PR kita," jelas Yustinus.

Tantangan sulit lainnya yang perlu diperbaiki saat kondisi new normal adalah reindustrialisasi atau memperkuat industri manufaktur yang saat ini mengalami penurunan tajam.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi AS Bisa Anjlok 38 Persen Akibat Pandemi Covid-19

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X