Anggota DPR Ini Kritisi PEN karena Ada Alokasi yang Cukup Menggelikan...

Kompas.com - 01/06/2020, 19:00 WIB
ilustrasi rupiah thikstockphotosilustrasi rupiah

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Gerindra, Kamrussamad mempertanyakan dukungan pemerintah terhadap sektor riil dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2020.

Pasalnya dari dana Rp 641,17 triliun, pemerintah mengalokasikan untuk BUMN (dana talangan, penyertaan modal negara, subsidi) Rp 135,34 triliun, insentif pajak Rp 123,01 triliun, dan pembiayaan investasi Rp 178 triliun.

Bahkan, pemerintah masih mengalokasikan dana untuk program B30 di dalam program PEN Rp 2,78 triliun. Sementara untuk PEN hanya tersisa sekitar 36 persen dari Rp 641,17 triliun.

"Ada alokasi yang cukup menggelikan yaitu program B30, ingin mendorong industri CPO bisa berkompetisi di pasar global. Apakah ini tepat untuk saat ini? Dari total dana, tinggal 36 persen atau Rp 384 triliun untuk PEN. Ini yang disayangkan," kata Kamrussamad dalam konferensi video, Senin (1/6/2020).

Baca juga: Anggaran Pemulihan Dampak Pandemi Naik Jadi Rp 641,17 Triliun, Ini Rinciannya

Kamrussamad menjelaskan, setidaknya ada 12 BUMN yang mendapat dukungan dari pemerintah dalam program PEN 2020. 12 BUMN itu antara lain, PLN, Hutama Karya, Perum Bulog, Garuda Indonesia, KAI, PTPN, BPUI, PNM, KS, Perumnas, Pertamina, dan ITDC.

Untuk Garuda Indonesia misalnya, pemerintah memilih skema pemberian dana talangan berupa investasi non-permanen lewat SMV Kemenkeu sebesar Rp 8,50 triliun.

Pemberian dana talangan ini perlu kembali diperhatikan pemerintah. Sebab pemerintah pun berusaha keras menambal defisit hingga masih perlu menerbitkan SBN Rp 990,1 triliun.

"Kita tahu Garuda pada Juni 2020 ini punya utang jatuh tempo 500 juta dollar AS. Apakah dana talangan ini dimaksudkan untuk itu? Kalau itu terjadi sungguh ironis. Harusnya jika ada utang jatuh tempo lakukan renegosiasi. Saya yakin ada jalan keluar," papar Kamrussamad.

Baca juga: Dipangkas Rp 10 Triliun, Anggaran Belanja Belanja Kemenhub Tinggal Rp 32 Triliun

Lebih lanjut dia menyarankan, program PEN mengacu pada Peraturan Pemerintah 23 Tahun 2020 sebagai turunan Perppu 1/2020 fokus kepada 2 sektor, yakni sektor riil dan sektor keuangan, bukan BUMN.

Di sektor riil, program PEN harus menyasar sektor pangan daerah, UMKM, industri padat karya, dan industri pariwisata agar bisa bergerak kembali. Sementara di sektor keuangan, memperkuat likuiditas perbankan dan lembaga keuangan mikro, PP, koperasi dan UKM.

Kemudian, kebijakan fiskal harus diprioritaskan kepada bidang kesehatan meliputi infrastruktur kesehatan, penelitian vaksin, dan tenaga medis. Tak lupa untuk pendistribusian bantuan sosial (bansos) sehingga 65 persen warga bisa tercover.

"Saat ini bahkan kita belum menganggarkan dana untuk vaksin. Padahal kita punya peneliti, profesor, dan sebagainya. Beda dengan negara lain (yang punya anggaran untuk vaksin)," tukasnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X