Luhut Yakin Proyek Smelter Rampung Bisa Datangkan Devisa 9 Miliar Dollar AS

Kompas.com - 02/06/2020, 21:10 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi yang juga Menhub ad interim Luhut Binsar Pandjaitan menjawab beberapa pertanyaan terkait tindakan pemerintah tangani virus corona di akun Instagramnya, Selasa (24/3/2020). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIMenko Kemaritiman dan Investasi yang juga Menhub ad interim Luhut Binsar Pandjaitan menjawab beberapa pertanyaan terkait tindakan pemerintah tangani virus corona di akun Instagramnya, Selasa (24/3/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan, apabila proyek pembangunan smelter yang ada di Kabupaten Konawe dan Morowali dikebut penyelesaiannya, Indonesia akan menerima hasil devisa ekspor yang besar senilai 9 miliar dollar AS.

Proyek tersebut rencananya akan dikerjakan oleh Tenaga Kerja Asing dari China.

"Kalau proyek ini kita teruskan dan kita tuntaskan, tahun ini kita bisa dapat devisa ekspor 9 miliar dollar AS dari stainless steel dan karbon steel dari 4 industri yang ada di daerah sana," katanya melalui diskusi virtual, Selasa (2/6/2020).

Baca juga: Jubir Luhut: 500 TKA China Dibutuhkan untuk Mempercepat Pembangunan Smelter

Dalam data slide yang ia tampilkan, dijelaskan pada 2014 kontribusi ekspor besi baja masih berkontribusi sebesar 1,1 miliar dollar AS. 

Luhut yakin, ekspor besi baja yang terus dikembangkan di Indonesia ini tiap tahunnya terus meningkat.

Pada 2019, ekspor besi baja mulai menyusul ekspor kendaraan yakni sebesar 7,4 miliar dollar AS. Sedangkan ekspor kendaraan pada 2019, berkontribusi sebesar 8,1 miliar dollar AS.

"Yang cukup membantu kita adalah besi baja yang juga terus meningkat. Besi dan baja ini dulu 2018, masih 10 besar ini sekarang tahun ini sudah di nomor tiga (kontribusinya). Apa itu besi baja? Itu yang dari Morowali, lahir dari Konawe Utara, yang didemo-demo bilang TKA China ini justru memberikan kontribusi terbesar ke kita," ujarnya.

"Kemudian ekspor besi baja dan kendaraan Indonesia, di 2014 kalau Anda lihat, kendaraan 5,2 miliar dollar AS untuk kendaraannya. Ekspor nikel ore cuma 1,1 miliar dollar AS," sambung Luhut.

TKA China Dibutuhkan

Sebelumnya, Juru bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jodi Mahardi mengklaim, 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China sangat dibutuhkan di tengah upaya hilirisasi tambang di Indonesia.

Sebab, kata Jubir Luhut itu, 500 TKA China yang rencananya datang pada akhir Juni atau awal Juli 2020 itu akan mempercepat pembangunan smelter nikel di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Menurut jodi, teknologi RKEF akan membuat pembangunan smelter menjadi lebih ekonomis, cepat dan memiliki standar lingkungan yang baik. Bahkan kata dia, teknologi itu juga akan menghasilkan produk hilirisasi nikel yang bisa bersaing di pasar internasional.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X