Tantangan Kerja Jurnalis di Tengah Pandemi Covid-19

Kompas.com - 05/06/2020, 20:15 WIB
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (3/5/2018). KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWANKetua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (3/5/2018).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang luas ke berbagai sektor dan profesi, termasuk di industri media.

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan mengatakan, pandemi Covid-19 membuat kerja jurnalis ikut terdampak.

"Misalnya semenjak ada Covid-19 dan diberlakukan Physical Distancing dan Work from Home (WFH) membuat para jurnalis harus melakukan orientasi pemanfaatan digital, yang biasanya mereka harus bekerja di lapangan namun kini mereka harus kerja dari rumah," ujarnya dalam Sharing Session Industry Rountable bersama Markplus, Jumat (5/6/2020).

Baca juga: Ikut Program Tapera, Ini Besaran Bunga KPR yang Ditawarkan

Ia mengatakan bekerja dari rumah membuat para jurnalis mau tidak mau merasakan kesulitan. Misalnya saja dalam hal mengakses internet. Ia menyebut, internet di kota seperti Bogor, Depok dan Bekasi saja terkadang masih sulit diakses.

"Efeknya apa, misalnya ketika wawancara berlangsung melalui telepon atau video call tiba-tiba internet terputus, kan jadi susah. Atau ketika lagi liputan virtual, jaringan lambat pasti Jurnalis juga merasa kesusahan. Bagaimana lagi dengan teman-teman jurnalis yang berada di Papua pasti lebih susah lagi," kata dia.

Selain itu lanjut dia, dampak konektivitas internet yang buruk tersebut membuat kualitas informasi juga berpengaruh.

Oleh karena itu, AJI mendorong jurnalis untuk kreatif semaksimal mungkin agar keakuratan dan kualitas informasi masih bisa tetap terjaga.

Baca juga: Dana Haji Dipakai untuk Stabilitas Rupiah, Ini Kata Gubernur BI

"Biasanya metode jurnalis yang paling jitu dilakukan untuk menjaga keakuratan dan kualitas informasi didapatkan melalui metode wawancara secara langsung. Namun dikarenakan pandemi, tidak memungkinkan untuk mereka melakukan wawancara secara langsung kecuali hanya menggunakan metode wawancara melalui telepon," kata dia.

Meski begitu, Abdul Aman juga menyebut ada satu hal yang menjadi peluang positif yang bisa dirasakan oleh para jurnalis semenjak ada pandemi. Hal tersebut yakni munculnya diskusi-diskusi di dalam dan luar negeri yang bisa diakses secara online.

Ada juga beberapa media di luar negeri yang membuat pelatihan-pelatihan online atau diskusi panel yang membahas mengenai tata cara liputan di tengah pandemi. Hal itu bisa menambah ilmu jurnalis di Indonesia.

"Selama pandemi ini banyak kelas online untuk kepelatihan yang diselenggarakan oleh media dari luar negeri. Jurnalis-jurnalis kita bisa ikut bergabung dan lumayan bisa mendapatkan peluang belajar secara global, dan bisa menjadi bahan untuk meningkatkan kompetensi," pungkasnya.

Baca juga: Kadin Sebut Program Tapera Tambah Beban Pengusaha



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X