PG Colomadu, Simbol Kekayaan Raja Jawa-Pengusaha Pribumi era Kolonial

Kompas.com - 07/06/2020, 09:12 WIB
Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IVPabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV

KARANGANYAR, KOMPAS.com - Cerobong asap menjulang tinggi di pinggir Jalan Raya Adi Sucipto, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jika berkendara dari arah Kota Solo menuju Bandara Adi Soemarmo, bangunan megah bergaya kolonial ini tampak sangat mencolok di sisi kiri jalan.

Halaman sayap di kiri-kanannya terasa sangat lapang. Pepohonan rindang berusia ratusan tahun di depannya kerapkali dijadikan tempat berteduh bagi pengendara-pengendara yang melintas di jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Boyolali dengan Kota Surakarta.

Bangunan besar berkelir kuning gading itu merupakan sisa kejayaan dari Pabrik Gula Colomadu atau PG Colomadu ( De Tjolomadoe). Sesuai dengan angka tahun yang tertera di pintu masuknya, PG ini sudah ada sejak tahun 1861, salah satu yang tertua di Indonesia.

Manisnya komoditas gula saat zaman Hindia Belanda, khususnya pasca-era tanam paksa (cultuur stelsel) tahun 1830, membuat investasi perkebunan gula partikelir bermunculan. Manisnya komoditas gula adalah sumber kekayaan para pengusaha Eropa di Hindia Belanda. Bak jamur di musim hujan, pabrik-pabrik gula pun dibangun di sejumlah daerah, khususnya di Pulau Jawa.

Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IVMuhammad Idris (Money/Kompas.com) Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV

Pabrik gula ini dibangun oleh KGPAA Mangkunegara IV, raja Jawa dari Praja Mengkunegaraan yang hidup di periode 1853-1881. Dia dianggap sebagai salah satu pribumi paling kaya di era Hindia Belanda.

Sebelum Mangkungera IV berkuasa, tanah lungguh milik Praja Mengkunegaran lebih banyak disewakan ke pengusaha-pengusaha Eropa untuk dijadikan perkebunan. Karena dipandang tak memberikan banyak keuntungan, dia berinisiatif memanfaatkan tanah untuk ditanami tebu dan membangun pabrik gula sendiri.

Baca juga: Ironi Gula, Eksportir Era Hindia Belanda, Jadi Importir Usai Merdeka

Pada abad ke-19, gula tengah jadi komoditas yang sedang naik daun. Para pengusaha paling kaya di Hindia Belanda adalah mereka yang menguasai pabrik gula dan perkebunan tebu.

Antara tahun 1859-1860, Mangkunera IV memutuskan untuk tak memperpanjang kontrak sewa tanah dengan pengusaha swasta Barat. Langkahnya diawali dengan meminta persetujuan Residen Belanda di Surakarta.

Dengan modal 400.000 gulden yang berasal dari pinjaman pengusaha Semarang Be Biaw Tjwan, sebuah pabrik gula dibangun di Desa Malangjiwan, wilayah pinggiran Kota Surakarta yang saat ini menjadi Kecamatan Colomadu yang masuk Kabupaten Karanganyar.

Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IVMuhammad Idris (Money/Kompas.com) Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV

Pembangunan PG Colomadu (De Tjolomadoe) diserahkan pada R. Kampf, seorang Eropa berkembangsaan Jerman yang kemudian ditunjuk Mangkunegara IV sebagai administratur setelah PG Colomadu beroperasi. Peralatan dan mesin didatangkan secara bertahap dari Eropa.

Penamaan Pabrik Gula Colomadu sendiri memiliki arti gunung madu. Nama itu mengandung makna harapan agar kehadiran pabrik gula menjadi simpanan kekayaan dalam bentuk gula pasir yang menyerupai gunung. Tahun-tahun pertama produksi, penjualan gula memberikan keuntungan fantastis.

Raja jawa dan pengusaha pribumi

Dikutip dari informasi sejarah di museum PG Colomadu, hasil giling di tahun pertama atau tahun 1863 saja mencapai 3.700 kuintal gula. Pendapatan dari gula mampu menutup semua pengeluaran kerajaan, jauh melampaui penerimaan dari penyewaan tanah lungguh. 

Puncak produksinya terjadi di tahun 1936 yang menghasilkan gula hingga 219.000 kuintal. Kekayaan Mangkunegara IV meningkat pesat berkat manisnya gula. Sekaligus menjadikannya pengusaha pribumi paling kaya saat itu.

Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IVMuhammad Idris (Money/Kompas.com) Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV

Di abad ke-19, pengusaha pribumi terbilang masih bisa dihitung dengan jari. Ketimbang mengelolanya sendiri, kebanyakan bangsawan Jawa saat itu lebih memilih menyewakan tanahnya kepada pengusaha Eropa dan keturunan etnis China.

Keuntungan pabrik gula digunakan untuk menggaji pegawai, membangun irigasi, jalan, merenovasi Pura Mangkunegaran, sekolah, membangun Taman Balekambang.

Baca juga: Mimpi Setengah Abad Indonesia Bisa Swasembada Gula

Termasuk saweran dengan perusahaan kereta api swasta Kolonian Belanda Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) untuk Stasiun Solobalapan yang jadi simbol rivalitasnya dengan Keraton Surakarta. Stasiun ini dibangun di atas lapangan yang digunakan sebagai pacuan balap kuda milik Praja Mangkunegaran.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Whats New
Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

Rilis
Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Whats New
Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Whats New
Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Whats New
Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Whats New
Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Whats New
Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Whats New
IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

Whats New
Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Rilis
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Work Smart
Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Whats New
Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Whats New
Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X