Kompas.com - 08/06/2020, 13:55 WIB
Alandio Ruldi meracik kopi di kedai kopi Nyambi Ngopi di Kukusan, Depok, Sabtu (18/4/2020). Untuk memerkecil resiko kerugian dan bertahan di tengah pandemi wabah Covid-19, Nyambi Ngopi bersiasat menjual produk kopi literan. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOAlandio Ruldi meracik kopi di kedai kopi Nyambi Ngopi di Kukusan, Depok, Sabtu (18/4/2020). Untuk memerkecil resiko kerugian dan bertahan di tengah pandemi wabah Covid-19, Nyambi Ngopi bersiasat menjual produk kopi literan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di banyak kota, membawa dampak pada banyak bisnis. Salah satunya kedai kopi kekinian.

Selama ini dengan andalan menu es kopi susu, kedai kopi ini memang punya ujung tombak pemasaran ojek online.

Namun, banyak dari mereka juga menyediakan tempat nongkrong jika pembelinya mau menghabiskan minuman di situ.

Baca juga: Kembali Beroperasi di Tengah Corona, Masyarakat Berani Naik Ojol Lagi?

Ketika kedai separuh tutup, apakah pembeli juga mesti menahan diri tidak belie s kopi? Ternyata tidak. Peminat es kopi tetap setia berbelanja kegemaran mereka. Salah satunya Erwin. Sebelum pandemi, hampir saban hari kerja, dirinya mampir ke kedai kopi.

Dia pun betah berjam-jam duduk sambil minum es kopi susu gula aren. “Rasa kopinya tidak terlalu kuat. Manisnya juga pas,” ujar Erwin.

Kini, ia tetap menyeruput es kopi susu gula aren kesukaannya meski mengandalkan ojek online. Biar enggak berkali-kali beli, dia sekalian pesan es kopi literan deh. Dan bukan hanya Erwin, kini banyak orang membelinya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Dengan sulitnya berkumpul di kedai kopi sekarang, dan untuk memenuhi kebutuhan kafein, mereka butuh stok kopi susu di rumah,” ucap Hendrawan Wibisono, pemilik Kopi Susu Indonesia di Purwokerto, Jawa Tengah.

Baca juga: Utang Pinjaman Online Menggunung? Lunasi dengan 3 Cara Sederhana Ini

Menurut Hendrawan, inovasi kopi susu literan ini dapat menghemat pengeluaran konsumen. Kalau selama ini, konsumen bolak-balik ke kedai untuk membeli satu gelas kopi susu, saat ini mereka tetap di rumah dan bisa menikmatinya satu liter es kopi susu.

“Es kopi susu yang ditaruh di dalam kulkas juga awet selama lima hari. Jadi menghemat jajan konsumen,” tutur Hendrawan lagi.

Tak hanya generasi milenial, kata Hendrawan hingga kini, pesanan yang masuk didominasi orang kantoran. Hendrawan yang menjual kopi literan beberapa bulan lalu menyiapkan tiga jenis produk di kedai kopinya, Kopi Susu Indonesia.

Baca juga: Tarif Listrik Tak Naik, Lalu Apa Penyebab Tagihannya Membengkak?

Ada kopi susu satu liter, kopi susu setengah liter, dan kopi susu seperempat liter. Harganya mulai dari Rp 23.000 sampai Rp 75.000. “Kebanyakan pembeli memesan kopi susu setengah dan satu liter,” pungkasnya.

Selain Hendrawan yang menangkap peluang manis tersebut, ternyata Willawati, pemilik kedai kopi Bukanagara Coffee di Jakarta juga tak menjual kopi dalam kemasan gelas lagi. “Sejak April, kami hanya menjual kopi dalam botol 500 dan 1000 mililiter,” sebut Willawati.

Meski kedai sepi pengunjung, dan hanya menjual kopi dalam botol, Willawati mengaku tak merugi. Buktinya, dalam sehari dirinya bisa menjual 10 sampai 50 liter.

Baca juga: New Normal, PNS Kerja dari Rumah hingga 5 Jam Kerja

Harga yang dibanderol untuk cold brew buatannya yaitu Rp 150.000 sampai Rp 230.000. Sehingga dia memperkirakan omzet per bulan mencapai Rp 50 juta sampai Rp 100 juta.

Dengan capaian tersebut, Willawati mengaku mendapat marjin sebesar 50 persen setiap bulannya. Dan kalau ditanya balik modalnya, Willawati bilang kurun waktunya cepat, hanya tujuh bulan.

Raihan marjin manis rupanya dirasakan juga oleh Aditya Kristianto, pemilik Kopi Samarata. Semenjak menjual kopi literan awal Maret lalu, permintaan yang datang cukup banyak. Setidaknya dalam sehari, Aditya bisa menjual 8-15 botol kopi literan seharga Rp 75.000 sampai Rp 85.000.

Baca juga: Daftar Relawan Jokowi Saat Pilpres di Kursi Komisaris BUMN Karya

Menunya pun beragam, mulai dari es kopi sama aren dan es kopi sama rum. Dalam sebulan Aditya bisa meraih omzet Rp 12 juta sampai Rp 20 juta. “Marjinnya sekitar 50 persen. Berkat penjualannya menggunakan sosial media instagram dan e-commerce,” tandas Adit kepada Kontan.co.id, Jumat (5/6/2020).

Secara umum, kata Aditya, usaha ini sangat mudah dilakukan dari rumah. Sehingga tak heran, kemasan literan laris manis untuk diperjualbelikan para pelaku usaha kedai kopi. Termasuk juga Panji Maulana Aditya, pemilik kedai kopi Suasana Kopi, Jakarta.

Semenjak menjual kopi literan pada Maret lalu, Panji mengatakan mampu menjual 150 sampai 200 botol per hari. Untuk satu botol ukuran 500 militer dibanderol dengan harga Rp 65.000. Dia membocorkan marjin yang diterima sekitar 35 persen.

“Hampir 90 persen penjualan didominasi kopi dalam botol. Ya, karena mudah dibawa dan bisa disimpan dalam kulkas,” beber Panji. (Reporter: Jane Aprilyani | Editor: Yudho Winarto)

Baca juga: Penanganan Lumpur Lapindo Sedot Rp 239,7 Miliar Pada 2020

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Menenggak laba dari kopi literan yang tengah hits



Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jaga Keamanan Pelayaran, Indonesia Punya 285 Menara Suar

Jaga Keamanan Pelayaran, Indonesia Punya 285 Menara Suar

Rilis
Rights Issue, BRI Sudah Raup Rp 26,1 Triliun dari Publik hingga 21 September 2021

Rights Issue, BRI Sudah Raup Rp 26,1 Triliun dari Publik hingga 21 September 2021

Whats New
Gandeng Polri, KSPSI Lakukan Vaksinasi Covid-19 untuk 40.000 Buruh

Gandeng Polri, KSPSI Lakukan Vaksinasi Covid-19 untuk 40.000 Buruh

Whats New
Ada Isu Evergrande dan Tapering, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Ada Isu Evergrande dan Tapering, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Earn Smart
Semakin Modern, Petani di Sinjai, Sumsel Gunakan Alsintan

Semakin Modern, Petani di Sinjai, Sumsel Gunakan Alsintan

Rilis
Survei: Seimbangkan Karier dan Keluarga, Kesehatan Mental Pekerja Perempuan Memburuk Selama Pandemi

Survei: Seimbangkan Karier dan Keluarga, Kesehatan Mental Pekerja Perempuan Memburuk Selama Pandemi

Whats New
Cara Daftar Jadi Mitra Pelatihan Kartu Prakerja

Cara Daftar Jadi Mitra Pelatihan Kartu Prakerja

Whats New
BRI Luncurkan BRI Shops Master Class, Apa Itu?

BRI Luncurkan BRI Shops Master Class, Apa Itu?

Whats New
Sebut Revisi UU BUMN Perlu, Erick Thohir: Kadang Perusahaan Terbitkan Surat Utang untuk Bonus dan Tantiem...

Sebut Revisi UU BUMN Perlu, Erick Thohir: Kadang Perusahaan Terbitkan Surat Utang untuk Bonus dan Tantiem...

Whats New
Sri Mulyani: Saat ini, Kami Belum Lihat Bank Pulih Secara Kuat

Sri Mulyani: Saat ini, Kami Belum Lihat Bank Pulih Secara Kuat

Whats New
Erick Thohir Bentuk Holding BUMN Pangan, Apa Kelebihannya?

Erick Thohir Bentuk Holding BUMN Pangan, Apa Kelebihannya?

Whats New
Soal Jadi Investor Bank Muamalat, Ini Kata BPKH

Soal Jadi Investor Bank Muamalat, Ini Kata BPKH

Whats New
PT BNP Paribas AM dan PT Bank DBS Indonesia Luncurkan Reksa Dana Bertema Teknologi Global

PT BNP Paribas AM dan PT Bank DBS Indonesia Luncurkan Reksa Dana Bertema Teknologi Global

Whats New
Upah Minimum 2022 Mulai Dibahas, Menaker Masih Pertimbangkan Situasi Pandemi Covid-19

Upah Minimum 2022 Mulai Dibahas, Menaker Masih Pertimbangkan Situasi Pandemi Covid-19

Rilis
Kemenkeu Dapat Tambahan Anggaran Jadi Rp 44 Triliun, Buat Apa Saja?

Kemenkeu Dapat Tambahan Anggaran Jadi Rp 44 Triliun, Buat Apa Saja?

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.