Menurut Bappenas, Ini Besarnya Dampak Kehilangan Jam Kerja di Masa Pandemi

Kompas.com - 09/06/2020, 15:41 WIB
Kepala Bappenas Suharso Monoarfa di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (25/2/2020). KOMPAS.com/IhsanuddinKepala Bappenas Suharso Monoarfa di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (25/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menekankan pentingnya tenaga kerja yang beraktivitas dan diupah penuh di masa pandemi virus corona (Covid-19) ini.

Sebab, menurut dia, tanpa adanya pekerja akan merambat terhadap daya beli masyarakat yang pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.

"Ini cerita panjang hanya karena kehilangan jam kerja. Kehilangan jam kerja tadi efek berantainya luar biasa," katanya dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa (9/6/2020).

Baca juga: Berapa Pekerja yang Terdampak Covid-19? Ini Kata Pengusaha

Dia mencontohkan, 17 sub sektor di industri manufaktur padat karya yang mempunyai sekira 10 juta tenaga kerja. Diperkirakan pada industri ini hanya 50 persen yang berhasil dipertahankan.

Dari hasil perhitungannya berdasarkan jumlah tenaga kerja, lamanya waktu bekerja, serta upah yang dibayarkan per jamnya maka dapat disimpulkan sekitar Rp 40 triliun daya beli masyarakat yang hilang.

Ini terjadi sejak periode pertengahan Maret hingga minggu ketiga Mei 2020.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Yang paling gampangnya saya ambil 400 saja bila dikalikan 10 minggu sampai minggu ketiga Mei. Jadi, kalau itu 10.000 kali 400, itu artinya 400.000 jam kali 10 juta tenaga kerja. Berarti 4 miliar jam kerja," katanya.

Baca juga: Pemerintah Sebut 89 Proyek Bisa Serap 19 Juta Tenaga Kerja

"Artinya, 4 miliar jam kerja ini hilang. Kalau satu jam kerja dibayar Rp 20.000, ada pendapatan yang hilang sekitar Rp 80 triliun dibagi dua, karena industri padat karya yang bertahan separuh jadi Rp 40 triliun. Jadi, Rp 40 triliun daya beli bulan itu hilang. Itu menjelaskan orang-orang ini kalau dari output input, pembelinya di UMKM tidak ada." sambung Suharso.

Begitu pula dengan sektor pariwisata yang mengalami kondisi terpuruk di masa pandemi Covid-19 karena hampir seluruh kegiatannya lumpuh.

"Bagaimana kalau kita menghitung dari 12 juta yang bekerja di pariwisata. Itu hampir semua di rumahkan atau setidaknya dibayar cuma separuh, artinya kehilangan daya beli separuh. Kalau hitungannya seperti tadi Anda bisa bayangkan berapa daya beli yang hilang," jelas Suharso.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waspada, Ini Ciri-Ciri Entitas Kripto Bodong

Waspada, Ini Ciri-Ciri Entitas Kripto Bodong

Whats New
Animo Masyarakat Terhadap Aset Kripto Naik 50 Persen Hingga Akhir Mei 2021

Animo Masyarakat Terhadap Aset Kripto Naik 50 Persen Hingga Akhir Mei 2021

Whats New
[TREN WISATA KOMPASIANA] Danau Kelimutu | Pesona Kuil Shinto 1000 Torii | Menjelajah Kota Alexandria

[TREN WISATA KOMPASIANA] Danau Kelimutu | Pesona Kuil Shinto 1000 Torii | Menjelajah Kota Alexandria

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Ide Datang di Kamar Mandi | Mengapa Berpikir Logis Itu Penting?

[KURASI KOMPASIANA] Ide Datang di Kamar Mandi | Mengapa Berpikir Logis Itu Penting?

Rilis
Rincian Iuran BPJS Kesehatan Terbaru 2021

Rincian Iuran BPJS Kesehatan Terbaru 2021

Spend Smart
Mencantumkan Ikut Seminar dalam CV Lamaran Kerja, Pentingkah?

Mencantumkan Ikut Seminar dalam CV Lamaran Kerja, Pentingkah?

Work Smart
[TREN HUMANIORA KOMPASIANA] Anak adalah Point of References | Gapyear: Stigma, Doa, dan Cerita

[TREN HUMANIORA KOMPASIANA] Anak adalah Point of References | Gapyear: Stigma, Doa, dan Cerita

Rilis
Ini Susunan Direksi dan Komisaris Bank KB Bukopin yang Baru

Ini Susunan Direksi dan Komisaris Bank KB Bukopin yang Baru

Whats New
BKN Minta Calon Pelamar CPNS dan PPPK 2021 untuk Bersabar, Kenapa?

BKN Minta Calon Pelamar CPNS dan PPPK 2021 untuk Bersabar, Kenapa?

Whats New
Bangun Hunian di Jakarta dan Bogor, Adhi Commuter Properti Gandeng Sarana Jaya

Bangun Hunian di Jakarta dan Bogor, Adhi Commuter Properti Gandeng Sarana Jaya

Rilis
[KURASI KOMPASIANA] Pencopet di Angkutan Umum, Ini Cara Mengatasi dan Menghindarinya! | Modus Operandi Maling Perlente

[KURASI KOMPASIANA] Pencopet di Angkutan Umum, Ini Cara Mengatasi dan Menghindarinya! | Modus Operandi Maling Perlente

Rilis
Pendapatan Induk Usaha TikTok Melejit 111 Persen di Tahun 2020

Pendapatan Induk Usaha TikTok Melejit 111 Persen di Tahun 2020

Whats New
Gappri: Revisi PP Tembakau Perburuk Kondisi Industri Rokok

Gappri: Revisi PP Tembakau Perburuk Kondisi Industri Rokok

Whats New
Kini Pemilik Asuransi AXA Mandiri Bisa Konsultasi Kesehatan Gratis

Kini Pemilik Asuransi AXA Mandiri Bisa Konsultasi Kesehatan Gratis

Whats New
Prudential Indonesia Perluas Pemasaran Online Produk Asuransi

Prudential Indonesia Perluas Pemasaran Online Produk Asuransi

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X