[POPULER DI KOMPASIANA] Jubir Baru Gugus Covid-19 | Kiat Hemat Listrik | Hari Medsos Nasionals

Kompas.com - 13/06/2020, 15:52 WIB
dr Reisa Kartikasari KOMPAS/WAWAN H PRABOWOdr Reisa Kartikasari

KOMPASIANA--Ada yang berbeda dari laporan harian yang disampaikan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Indonesia, yakni kehadiran dr. Reisa Broto sebagai juru bicara.

Kehadirannya beberapa hari belakangan ternyata mendapat respon yang baik dari warganet. Achmad Yurianto memperkenalkan Reisa sebagai bagian dari tim komunikasi publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

"Beliau akan menyampaikan informasi dan edukasi pencegahan Covid-19, termasuk adaptasi kebiasaan baru untuk masyarakat yang produktif dan aman," lanjutnya, seperti dikutip dari siaran daring konferensi pers.

Apakah penunjukan dokter umum Reisa Broto Asmoro didapuk menjadi anggota tim komunikasi publik Gugus Tugas Covid-19 sudah dirasa tepat? Terlebih kehadiran Reisa untuk menemani sekaligus menyampaikan informasi dalam briefing harian Covid-19.

Selain kabar dan analisis terhadap hadirnya dr. Reisa Broto dalam tim komunikas publik Gugus Tugas Covid-19, masih ada konten menarik lainnya seperti keluhan masyarakat atas naiknya tagihan listrik hingga menyikapi perayaan hari media sosial.

Inilah konten-konten menarik dan terpopuler di Kompasiana dalam sepekan:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Strategi Persuasi ala Dokter Reisa

Benarkah modal penting sebab seorang komunikator yang melakukan persuasi akan dapat lebih diterima secara baik jika ia memiliki daya tarik fisik?

Setidaknya itulah yang kemudian jadi pertanyaan banyak orang atas penunjukan Dokter Reisa Broto sebagai jubir baru Gugus Tugas Penanganan Covid-19.

Dibalik parasnya yang catik, menurut Kompasianer Wardy Kedy, Dokter Reisa menjelma sebagai sosok yang seolah memberi angin segar pada setiap mata masyarakat yang memandangnya ketika memberi informasi.

"Dengan demikian, saya kira publik akan semakin lebih memahami setiap penjelasan dan informasi yang disampaikan Pemerintah karena telah dibagi secara merata dan jelas," lanjutnya.

Inilah yang dalam ilmu Psikologi dan Komunikasi dikenal sebagai strategi persuasi. (Baca selengkapnya)

2. Spanduk "Kami Menolak Rapid Tes" Mulai Menjamur di Kota Makassar, Ada Apa?

Pada Senin (08/06) dengan menggunakan sepeda motor, Kompasianer Pettarani SH rumah seorang sahabat di Jalan Abubakar Kecamatan Makassar, Kota Makassar.

Sebelum tiba di rumah sahabatnya itu, kira-kira 25 meter, ia terkaget dengan spanduk digantung di antara dua tiang listrik setinggi 3 meter dari permukaan tanah.

Ternyata tidak hanya di sana, spanduk-spanduk serupa yang bertuliskan "Kami Warga Barsel Menolak Rapid Tes", Kompasianer Pettarani SH lihat di RW II Barsel, Jalan Kandea III, Jalan Sultan Daeng Raja.

"Sejumlah warga di Kota Makassar menolak rapid test dengan berbagai alasan. Salah satunya ingin meminta swab test," tulisnya, melaporkan keadaan yang terjadi. (Baca selengkapnya)

3. Hemat Listrik Itu Bagus, tapi Ya Jangan Kebablasan

Listrik memang menjadi kebutuhan utama manusia hari ini. Tanpa listrik, tulis Kompasianer Ahmad Sugeng, hampir semua aktivitas bisa berhenti.

Kendati menjadi kebutuhan utama, penggunaannya tidak bisa semena-mena. Harus ada kontrol, penghematan, dan bahkan ada yang sampai kelewatan (terlalu) hemat.

Namun, kebiasaannya hemat listrik ini justru Kompasianer Ahmad Sugeng dapati dari temannya yang sudah berkeluarga. Bisa dikatakan temannya itu kelewat hemat.

Beberapa ada yang bisa diterapkan, seperti televisi, setrika, dan pompa air selalu ia pastikan sudah mati sebelum tidur.

Akan tetapi, lanjutnya, karena mereka tinggal di kota. Kultur hidup di kota tentu berbeda dengan di desa.

Di kota, lampu ruang tamu rumah dimatikan setiap hari dan hanya menyala setiap kali tamu berkunjung, tidak menjadi persoalan. Sebab memang individualistik dan kompetitif menjadi dua ciri yang melekat bagi masyarakat kota," tulisnya. (Baca selengkapnya)

4. Ada Udang di Balik Medsos

Sadarkah kita jika setiap 10 Juni diperingati sebagai Hari Media Sosial di Indonesia?

Ketika media sosial sudah menjadi kesibukan baru masyarakat kita, rasa-rasanya sudah lahir zaman baru.

Media sosial telah mengubah segalanya, tulis Kompasianer Guritno Adi, dari cara politikus berkampanye hingga cara anak muda menembak gebetannya. Semuanya telah berubah.

Bahkan, lanjutnya, manusia bisa merasa sudah jadi yang paling pintar begitu membaca artikel tentang bagaimana dunia ini bekerja.

"Akhirnya semua diperuncing dengan opini-opini yang saling tumpang tindih, berkelindan, menggelinding kesana kemari dalam bentuk artikel viral, pesan berantai atau gambar-gambar editan yang menghujani media sosial," tulis Kompasianer Guritno Adi. (Baca selengkapnya)

5. Hati-hati Gunakan WhatsApp Web di Komputer Kantor

Meski WhatsApp Web mempermudah pengguna mengirim foto hingga dokumen, namun tetaplah waspada akan bahaya yang mengintai di baliknya.

Jadi, jika sering mensinkronkan WA di komputer atau laptop tentu ada hal-hal yang harus diperhatikan agar privasi kita tetap aman dan tidak diketahui oleh orang lain.

"Jangan sampai lupa untuk keluar dari laman tersebut, karena lupa sedikit akan berdampak fatal bagi penggunanya," tulis Kompasianer Lilian Kiki.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika kita menggunakan WA Web seperti pastikan kolom centang "Tetap Masuk" tidak tercentang. (Baca selengkapnya)



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.