Kemarin BUMN Sibuk Urus Pandemi, kini Dihadapkan pada Agoraphobia

Kompas.com - 16/06/2020, 05:48 WIB
Gedung Kementerian BUMN di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Kompas.com/Akhdi Martin PratamaGedung Kementerian BUMN di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Tentu bukan hal yang aneh kalau ada yang khawatir dengan besaran hutangnya. Juga ada yang cemas melihat kemungkinan kesulitan akibat pandemi Covid-19 ini.

Kita tentu tak bisa melihat angka hutang begitu saja. Angka itu perlu dilihat penuh kehati-hatian dalam konteksnya masing-masing.

Dalam perhitungan investasi dan kemampuan pengembalian, sehingga dibutuhkan dashboard keuangan yang lebih komprehensif supaya tidak menjadi debat kusir.

Tapi ada yang lebih berbahaya yang juga harus kita waspadai, yaitu ancaman ketidakmampuan beradaptasi dan kehilangan relevansi. Ya, bukankah pada setiap zaman selalu ada industri dan usaha yang kehilangan relevansi? Juga ada yang salah urus?

Seperti apa perubahan yang mesti dihadapi BUMN?

Saya mencatat setidaknya ada 7 tantangan baru yang mau tidak mau menuntut cara pandang baru. Maka kompetensi para eksekutifnya, kecepatan tindak/respon, kesatuan tim, di samping integritas menjadi sangat penting untuk memajukan BUMN.

Maaf kali ini saya tak bermaksud menyajikan angka-angka, agar pembicaraan lebih strategis. Lagi pula sudah banyak sekali yang berbicara tentang angka. Jadi lain kali saja.

Setelah membaca tulisan ini mungkin Anda akan berpikir, betapa tidak mudahnya duduk di jajaran pengurus BUMN. Tantangannya berat. Namun di balik itu, tentu saja ada “pintu keluar” yang harus dicari, untuk mengantarkan BUMN pada kehidupan yang lebih baik.

Tantangan Global

Saya membagi 7 tantangan itu ke dalam tiga kelompok besar: Tantangan Global, Tantangan Strategis dan Ancaman Relevansi tadi.

Pada tatanan global ada ancaman resesi dunia, isolasionisme dan the rise of soft power. Namun karena ancaman resesi global sudah sering dibahas, saya merasa tidak perlu diulas lagi di sini.

Baca juga: Kemenkeu: Dana Talangan BUMN Rp 19,65 Triliun Harus Dikembalikan...

Pandemi C-19 juga melahirkan pembatasan kegiatan antarbangsa dan pergerakan barang dan manusia. Masing-masing bangsa mengambil langkah mengisolasi dirinya dari penduduk negara lainnya. Ada yang mengatakan sampai akhir tahun ini, tapi setelahnya, konon ada begitu banyak restriksi yang berlaku.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X