Defisit APBN Mei 2020 Capai Rp 179,6 Triliun

Kompas.com - 16/06/2020, 11:41 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) tentang Kebijakan Stimulus ke-2 Dampak COVID-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/3/2020). Dalam Rakor tersebut dihasilkan beberapa hal salah satunya mencangkup PPH Pasal 21 yang akan ditanggung Pemerintah untuk industri. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAMenteri Keuangan Sri Mulyani menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) tentang Kebijakan Stimulus ke-2 Dampak COVID-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/3/2020). Dalam Rakor tersebut dihasilkan beberapa hal salah satunya mencangkup PPH Pasal 21 yang akan ditanggung Pemerintah untuk industri. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan, hingga Mei 2020 defisit Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara ( APBN) tercatat sebesar Rp 179,6 triliun.

Angka itu setara dengan persen 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Adapun dalam Perpres 54 tahun 2020 yang merupakan perubahan terhadap APBN 2020 mematok defisit APBN tahun ini sebesar 5,07 persen, meski angka tersebut sudah direvisi lagi menjadi 6,34 persen terhadap PDB.

Baca juga: Kemenkeu: Defisit APBN Dinaikkan agar Ekonomi RI Tak Memburuk

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, defisit tersebut lebih tinggi 42,8 persen jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp 125,8 triliun atau setara dengan 0,79 persen terhadap PDB.

"Defisit Mei 2020 sebesar Rp 179,6 triliun atau 1,1 persen dari total defisir yang ada di Perpres 54 dan ini terjadi, berarti kenaikan defisit dari tahun lalu 42,8 persen," ujar Sri Mulyani ketika memberikan pemaparan dalam konferensi video di Jakarta, Selasa (16/6/2020).

Lebih lanjut Sri Mulyani menjelaskan, defisit APBN terjadi lantaran pendapatan negara yang lebih rendah dibandingkan dengan belanja negara.

Realisasi pendapatan negara hingga akhir Mei sebesar Rp 664,3 triliun atau 37,7 persen dari target APBN yang telah mengalami perubahan melalui Perpres Nomor 54 tahun 2020 menjadi sebesar Rp 1.760,9 triliun.

Baca juga: Anggaran Pemulihan Ekonomi Membesar, Defisit APBN 2020 Bengkak Jadi Rp 1.039,2 Triliun

Dari sisi penerimaan perpajakan, imbuh Ani, terjadi tekanan lantaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang turut menekan kegiatan ekonomi.

Ani mengatakan, hingga akhir Mei 2020 realisasi penerimaan perpajakan mencapai Rp 526,2 triliun.

Angka tersebut setara dengan 36 persen dari target Perpres 54 2020, serta mengalami kontraksi atau minus 7,9 persen jika dibandingkan dengan realisasi tahun lalu. Di sisi lain, untuk realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mengalami lonjakan hingga 13,6 persen menjadi Rp 136,9 triliun.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X