Sri Mulyani Proyeksi Perekonomian RI Tumbuh -3,1 Persen Pada Kuartal II-2020

Kompas.com - 16/06/2020, 14:12 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) tentang Kebijakan Stimulus ke-2 Dampak COVID-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/3/2020). Dalam Rakor tersebut dihasilkan beberapa hal salah satunya mencangkup PPH Pasal 21 yang akan ditanggung Pemerintah untuk industri. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAMenteri Keuangan Sri Mulyani menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) tentang Kebijakan Stimulus ke-2 Dampak COVID-19 di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/3/2020). Dalam Rakor tersebut dihasilkan beberapa hal salah satunya mencangkup PPH Pasal 21 yang akan ditanggung Pemerintah untuk industri. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan, perekonomian RI berada dalam tekanan paling berat pada kuartal II tahun ini.

Hal tersebut berkaitan dengan pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan serentak di banyak wilayah di Indonesia pada periode April hingga Maret 2020. Dengan demikian, kuartal II tahun ini, pertumbuhan ekonomi RI diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 3,1 persen.

"Meski kuartal I masih tumbuh 2,97 persen, tapi kuartal II kontraksi akan terjadi karena ini memang full PSBB diberlakukan di berbagai tempat dengan kontribusi ekonomi yangs angat besar, seperti Jakarta, Jawa tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat," jelas Sri Mulyani dalam video conference, Selasa (16/6/2020).

Baca juga: Sri Mulyani: Anggaran Penanganan Covid-19 Akan Terus Bergerak

"Dengan pembatasan sosial restriktif akan memengaruhi kinerja ekonomi kuartal II yang akan negatif 3,1 persen," jelas dia.

Kinerja perekonomian yang negatif menurut dia terlihat dari realisasi kinerja ekspor dan impor yang menurun tajam meski di sisi lain terjadi surplus neraca perdagangan sebesar 2,09 miliar dollar AS.

Namun demikian, untuk impor bahan baku misalnya, merosot 43,03 persen (yoy). Begitu juga impor barang modal yang turun 40 persen (yoy). Menurut Ani, hal tersebut menunjukkan adanya kemerosotan kinerja di sektor industri manufaktur.

"Impor bahan baku dan barang modoal turun tajam, ini tentu akan memengaruhi kinerja dari manufaktur kita dalam tiga hingga enam bulan ke depan," jelas dia.

Namun demikian Bendahara Negara itu mengatakan pemerintah masih berpegang pada proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun di kisaran -0,4 persen hingga 2,3 persen.

Pihaknya berharap meski mengalami tekanan cukup dalam pada kuartal II nanti, kondisi perekonomian bisa mulai pulih di kuartal III dan lebih baik lagi di kuartal IV.

"Kita masih menggunakan antara 0,4 persen hingga 2,3 persen meski poin estimate mulai mendekati 0 persen hingga 1 persen. Kita akan lihat terus karena masih melihat berbagai perkembangan," jelas dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X