Menebak Arah Pasar Modal Semester II 2020

Kompas.com - 17/06/2020, 10:08 WIB
Ilustrasi IHSG KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGIlustrasi IHSG

Semester I 2020 yang penuh gejolak sudah hampir berakhir. Berbagai sentimen negatif muncul silih berganti mulai dari potensi terjadinya perang, investor asing yang keluar dari saham dan obligasi Indonesia, kasus hukum yang menimpa perusahaan keuangan, hingga yang belakangan ini COVID-19, PSBB dan relaksasinya. Bagaimana dengan semester II 2020?

Meskipun negatif dan bergejolak hebat, penurunan signifikan lebih banyak terjadi di bulan Februari dan Maret. Sejak bulan April hingga Juni, kinerja IHSG dan Indeks Obligasi pemerintah stabil dan naik secara perlahan.

Pada saat artikel ini ditulis, IHSG berada di level 4.986 atau turun 20 persen dari posisi awal tahun di level 6.299.

Sebaliknya, Indeks Obligasi Pemerintah sudah naik 1,65 persen dari awal tahun. Hal ini menyebabkan kinerja reksa dana pendapatan tetap masih positif tahun ini, berbanding terbalik dengan reksa dana saham yang masih negatif.

Baca juga: New Normal dan Pelonggaran PSBB Bakal Picu Pasar Saham Menguat

IHSG juga sudah berkali-kali menguji level 5.000, penulis percaya bahwa pada akhir bulan Juni ini seharusnya mampu bertahan di atas level 5.000. Sampai dengan akhir tahun 2020, seharusnya IHSG nilai wajar IHSG akan berkisar di level 5.500–6.000.

Untuk Indeks Obligasi Pemerintah yang menjadi aset dasar reksa dana pendapatan tetap, tingkat return untuk tahun 2020 seharusnya dapat berkisar antara 8-10 persen yang merupakan akumulasi dari kupon dan efek kenaikan harga.

Meski demikian, volatilitas atau gejolak harga masih akan ada, terutama di instrumen berbasis saham dan reksa dana saham. Apa saja sentimen-sentimen yang mungkin berpengaruh terhadap pergerakan pasar modal di semester II ini ?

Data Pertumbuhan Ekonomi

Dirangkum dari 5 sumber yaitu Bank Indonesia, International Monetary Fund (IMF), Asian Development Bank (ADB), Bank Dunia, dan INDEF, Prediksi untuk tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 berkisar antara 0 persen hingga 2,5 persen.

Secara umum, ekonomi akan terkontraksi (negatif) signifikan pada kuartal II, agak pulih pada kuartal III, dan meningkat di Kuartal IV dan tahun 2021 nanti.

Sekalipun pertumbuhan ekonomi Indonesia 0 persen, hal ini tetap lebih baik dibandingkan negara lain yang diramalkan tingkat pertumbuhannya negatif dan secara teknis sudah memasuki masa resesi.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X