Bos BCA: Kepemimpinan Tak Cukup Hanya Diisi Orang Hebat, tetapi...

Kompas.com - 17/06/2020, 19:07 WIB
Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja memberikan keterangan pers kepada awak media, di Menara BCA, Jakarta, Selasa (3/12/2019). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIDirektur Utama BCA Jahja Setiaatmadja memberikan keterangan pers kepada awak media, di Menara BCA, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk ( BCA) Jahja Setiaatmadja berbagi pengalaman soal tipe kepemimpinan di dalam sebuah tim.

Jahja menuturkan, kepemimpinan (leadership) yang kuat berperan penting dalam sebuah bisnis. Kepemimpinan tak cukup hanya diisi oleh orang hebat, tapi harus diisi oleh tim yang hebat pula. Itulah yang dinamakan servant leardership.

"Dalam servant leardership ini, kita menghargai bukan semata pribadi yang kuat dan hebat. Tapi kita harus memiliki orang-orang yang kuat dalam tim. Ada yang kuat dalam berstrategi, kuat bertempur, dan ada orang bijak," kata Jahja dalam webinar Marketeers Hangout, Rabu (17/6/2020).

Baca juga: Bank BUKU I, Ini Saran Bos BCA agar Bertahan di Tengah Pandemi

Jahja menuturkan, seorang pemimpin tidak akan berfungsi apa-apa bila tim di belakangnya tidak mendukung. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus bisa menggerakkan anak buahnya untuk terpacu dengan koordinasi, bukan memunculkan ego masing-masing.

"Misalnya ada kalanya suatu bank merekrut jagoan dari berbagai institusi, lalu digabung dalam satu tim. Secara individual, mereka akan berkinerja sangat baik. Tapi pada saat harus teamwork, akan ada suatu ego-ego yang muncul. Yang jadi sulit, yang sulit makin sulit. Ini jadi PR," ucap Jahja.

Lebih lanjut dia menuturkan, pemimpin harus bisa membuat setiap anggota berkontribusi secara seimbang, tidak ada yang memenangkan ego. Pemimpin harus memastikan semua anggota diberikan hal untuk mengajukan usulan atau masukan.

"Kadang-kadang sering terjadi orang mendengar siapa yang berbicara, bukan apa yang disampaikan. Kalau begitu, yang punya potensi dan punya pengalaman akan sungkan menyampaikan kontribusi pemikiran mereka. Itu (usulan) bisa diaplikasikan atau tidak, itu masalah kedua. Dengarkan usulan," tuturnya.

Di BCA sendiri, kata Jahja, semua boleh mengutarakan pendapat. Namun pendapat itu tentu saja tak cukup hanya berlandaskan teori. Sebab tak semua teori bisa diaplikasikan di lapangan. Para karyawan dituntut untuk memberikan fakta nyata di lapangan.

"Ada yang berteori, nah ini yang saya enggak suka. Harus dengan pembuktian fakta di lapangan. Kalau sudah membuktikan fakta, (masukan) itu harus diterima. Jadi ini membangkang yang positif," pungkasnya.

Baca juga: Curhat Bos BCA Belajar dari Krisis Tahun 1998...



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X