Satu-satunya Penyedia Listrik, PLN Dinilai Belum Berorientasi Konsumen

Kompas.com - 19/06/2020, 18:11 WIB
Ilustrasi listrik SHUTTERSTOCKIlustrasi listrik

JAKARTA, KOMPAS.com - PT PLN (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai belum sepenuhnya berorientasi kepada konsumen, dalam hal ini masyarakat.

Pakar ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan, belum terfokusnya PLN terhadap konsumen, terlihat dari masih banyaknya keluhan yang disampaikan kepada perusahaan pelat merah penyedia listrik tersebut.

Bahkan, dalam kurun waktu satu tahun, sudah terjadi dua peristiwa besar yang mengakibatkan PLN kebanjiran keluhan dari pelanggan.

Baca juga: Saat Drakor Dituding Jadi Salah Satu Penyebab Kenaikan Tagihan Listrik

Pertama, peristiwa listrik padam atau blackout selama berjam-jam yang terjadi di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Tengah pada Agustus tahun lalu. Belum genap setahun, PLN kembali menuai polemik dengan munculnya banyak keluhan kenaikan tagihan listrik.

"Ini mengindikasikan bahwa PLN itu belum sepenuhnya berorientasi kepada konsumen," katanya dalam sebuah diskusi virtual, Jumat (19/6/2020).

Menurut dia, hal tersebut terjadi diakibatkan, PLN yang merupakan satu-satunya perusahaan penyedia listrik di Indonesia. Dengan adanya praktik monopoli tersebut, tidak ada persaingan sehat yang dapat memperbaiki kualitas pelayanan terhadap konsumen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Itu juga terjadi ketika Telkom (Persero) menjadi satu-satunya perusahaan telekomunikasi di Indonesia, tapi ketika pasar dibuka terjadi persaingan yang sehat," tutur Fahmy.

Kendati demikian, Fahmy menilai, bukan tidak mungkin perusahaan dengan praktik monopoli fokus terhadap pelayanan konsumen.

Baca juga: Bahas Lonjakan Tagihan Listrik, Ini 8 Hasil Rapat DPR dengan PLN

Fahmy menyebutkan, PT Kereta Api Indonesia (Persero) adalah salah satu contoh perusahaan dengan praktik monopoli yang mampu melakukan perubahan dengan memprioritaskan kepuasan konsumen.

"Pada saat dipimpin Ignasius Jonan melakukan perubahan paradigma untuk memperbaiki service excellence. Ke depan PLN harus melakukan perbaikan tadi dalam rangka memberikan service excellence," tuturnya.

Oleh karenanya, Fahmy mendorong PLN untuk melakukan transformasi serupa dengan KAI. Bahkan, ia menargetkan tidak ada lagi komplain yang diterima PLN ke depannya.

"Secara teoritis service excellence tidak ada komplain sama sekali," ucapnya.

Baca juga: Jonan Akui Biaya Urus Tanaman Lebih Besar dari Uang Pensiun Menteri

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.