Bank Sentral Inggris Minta Maaf karena Perbudakan di Masa Lalu

Kompas.com - 21/06/2020, 11:00 WIB
Demonstran merobohkan patung Edward Colston dalam aksi unjuk rasa menuntut keadilan atas kematian George Floyd di Bristol, Inggris, Minggu (7/6/2020). Edward Colston merupakan pedagang budak yang memiliki andil besar dalam pembangunan kota Bristol. REUTERS/MOHIUDIN MALIKDemonstran merobohkan patung Edward Colston dalam aksi unjuk rasa menuntut keadilan atas kematian George Floyd di Bristol, Inggris, Minggu (7/6/2020). Edward Colston merupakan pedagang budak yang memiliki andil besar dalam pembangunan kota Bristol.

LONDON, KOMPAS.com - Bank sentral Inggris, Bank of England menjadi salah satu institusi di Inggris yang menyampaikan permintaan maaf karena memiliki sejarah terkait perbudakan di masa lalu.

Dikutip dari CNN, Minggu (21/6/2020) beberapa perusahaan di Inggris mengakui soal keterlibatan dalam perdagangan budak di masa lalu, dan telah berjanji bakal memberikan dukungan finansial untuk komunitas hitam dan etnis minoritas di negara tersebut.

Keterlibatan perusahaan-perusahaan pada perdagangan budak di masa lalu disorot dalam database University College London yang mengeksplorasi warisan kepemilikan budak di Inggris, yang memberikan kontribusi besar bagi kekayaan negara.

Baca juga: Ekonomi Inggris Anjlok 20,4 Persen Pada April 2020

Sepanjang tahun 1640 hingga 1807, Inggris telah memperbudak 3,1 juta penduduk Afrika dan mengirim mereka ke seluruh dunia.

Banyak dari penduduk yang diperbudak itu dibawah ke Karibia untuk bekerja di kebun tebu, dan membuat pemilik mereka menjadi kaya raya dari hasil ekspor gula, molase, dan rum.

Ketika perbudakan kolonial akhirnya dihapuskan pada tahun 1833 Pemerintah Inggris membayar 25 juta dollar AS memberikan kompensasi kepada pemilik budak. Nilai kompensasi tersebut setara dengan 20,6 miliar dollar AS.

Sementara itu, individu-individu yang menjadi budak tidak menerima apa-apa. 

Adapun beberapa pekan terakhir, tengah meletus aksi massa Black Lives Matter di Inggris, dengan para demonstran yang merobohkan patung pedagang budak di abad ketujuh belas, Edward Colston.

Aksi massa pun menyerukan utnutk menghapus dan merobohkan monumen lain dengan sejarah yang serupa.

"Pemilik budak menjadi sangat penting, sebab kala itu mereka menjadi salah satu penyebab perbudakan masuk ke kawasan metropolitan Inggris," jelas University of College.

Baca juga: Pemerintah Inggris Siapkan Bailout untuk Perusahaan-perusahaan Papan Atas

Halaman:


Sumber CNN
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X