Kompas.com - 22/06/2020, 17:56 WIB

Selama bertahun-tahun India juga memandang, China sebagai patner dagang vital. Sebaliknya bagi China, India tak memegang peran terlalu siginifikan dan komoditas impor dari India masih bisa digantikan negara lain.

Menurut data United National Conference on Trade and Development (UNCTAD) di tahun 2018, sebesar 15,3 persen barang impor yang ada di India berasal dari China. Sementara barang impor di China yang didatangkan dari India hanya sebesar 5,1 persen.

Baca juga: Kemarahan Warga India dan Sulitnya Melepas Ketergantungan HP China

Dilansir dari Timesoft India, menabuh genderang perang dagang dengan China malah akan jadi bencana pada ekonomi India. Apalagi, negara ini sangat bergantung pada China untuk rantai pasok global, salah satunya pasokan bahan kimia untuk bahan baku industri obat yang harus dibeli dari China.

India selama ini dikenal sebagai salah satu produsen farmasi terbesar dunia. Kekurangan bahan baku dari China bisa membuat ekspor obat India anjlok.

Selain itu, New Delhi ini juga tak bisa lepas dari investasi China. Perang dagang dengan Beijing, tentu bisa membuat investasi luar negeri di India merosot.

Total ada lebih dari 225 perusahaan besar China yang berinvestasi langsung di India sepanjang tahun 2003 hingga 2020. Investor terbesar asal China yakni perusahaan telekomunikasi seperti Huawei dan Xiaomi.

Baca juga: Adu Kuat Anggaran Belanja Militer China Vs India

Beberapa perusahaan raksasa lainnya dari China juga tengah menjajaki penambahan nilai investasi di India, termasuk membangun basis produksi. Mereka adalah ZTE, Benling, Dezan Shira, Wafangdian, dan Vivo.

Di luar itu, India sebelum pandemi virus corona, juga mendapatkan keuntungan sangat besar dari lonjakan turis asing dari China.

India juga sulit melepaskan dari ketergantungan pada barang-barang murah dari China. Perang dagang dengan China bisa memicu kalangan menengah ke bawah dalam kondisi sulit.

Selama ini, warga miskin di India banyak menggunakan produk-produk China yang lebih terjangkau. Mereka juga sangat sensitif dengan harga.

Baca juga: Konflik Perbatasan, Menteri India Klaim 40 Tentara China Tewas

Contoh saja produk pendingin ruangan, warga menengah dan menengah bawah di India bakal kesulitan jika harus mengganti AC buatan China dengan pabrikan Jepang dan Barat yang harganya jauh lebih mahal.

"Kita harus bisa mandiri sebisa mungkin, tetapi kita tidak bisa memisahkan dari dunia. India harus terus mempertahankan diri menjadi bagian dari rantai pasokan global dan tidak memboikot barang-barang dari China," kata pemimpin Kongres India, Chidambaram dikutip dari Livemint.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.