Wajah KRL di Masa Lalu

Kompas.com - 29/06/2020, 09:36 WIB
Penumpang memadati atap gerbong kereta rel listrik (KRL) ekonomi Bogor-Jakarta yang melintas di kawasan Tanjung Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (26/3/2013). KOMPAS/WAWAN H PRABOWOPenumpang memadati atap gerbong kereta rel listrik (KRL) ekonomi Bogor-Jakarta yang melintas di kawasan Tanjung Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (26/3/2013).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kereta Rel Listrik atau KRL sangat akrab bagi para komuter di Jabodetabek. Jutaan orang sangat bergantung pada moda transportasi berbasis rel ini. KRL juga identik dengan penumpang yang berjubel pada jam-jam kerja.

Namun jika menengok beberapa tahun ke belakang, KRL jadi gambaran buruknya transporasi perkeretaapian di Indonesia. Tak hanya berdesakan di dalam gerbong, penumpang kereta juga lazim meluber di atas kereta yang membahayakan penumpang, baik risiko terjatuh hingga tersengat kabel listrik aliran atas (LAA).

Dilansir Harian Kompas, 1 April 2013, Direktur PT Kereta Api Indonesia ( KAI) saat itu, Ignasius Jonan, menegaskan pada bulan September 2013, tidak ada lagi KRL tanpa pendingin ruangan (AC) di Jabodetabek.

”Kini sudah tak ada lagi yang jual kereta tanpa AC (pendingin ruangan). Jadi, kami jalankan rangkaian kereta AC untuk menggantikan KRL ekonomi,” ujar dia.

Baca juga: Ignasius Jonan: Saya Bukan Hanya Bisa Jalankan Kereta Api Saja...

Pasca-penarikan KRL ekonomi, dipastikan tinggal satu kelas pelayanan KRL, yakni KRL berpendingin ruangan. Sebelumnya, selisih tarif KRL ekonomi dan ekonomi cukup tinggi, yakni Rp 7.000.

Saat itu, definisi KRL kelas ekonomi sangat kabur. Selama ini KRL ekonomi identik dengan kereta yang dibeli pemerintah dan tanpa pendingin ruangan. Penumpang KRL ekonomi mendapatkan subsidi dari pemerintah sehingga tarifnya bisa berkisar Rp 1.000-Rp 2.000.

Tiket perjalanan KRL Ekonomi Palmerah-Serpong di hari terakhir beroperasi, Senin (6/52013). Mulai hari ini, Selasa (7/5/2013), Seluruh perjalanan KRL Ekonomi di lintas Tanah abang-Serpong dihapus dan digantikan rangkaian Commuter Line.
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Tiket perjalanan KRL Ekonomi Palmerah-Serpong di hari terakhir beroperasi, Senin (6/52013). Mulai hari ini, Selasa (7/5/2013), Seluruh perjalanan KRL Ekonomi di lintas Tanah abang-Serpong dihapus dan digantikan rangkaian Commuter Line.

Berdasarkan Pasal 153 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, disebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab membayarkan selisih antara tarif kereta ekonomi yang ditetapkan pemerintah dan tarif yang dihitung operator.

Tarif KRL sendiri masih di bawah tarif bus. Tiket bus non-AC dari Bogor ke Jakarta mencapai Rp 7.000, sedangkan tiket bus dengan pendingin ruangan Rp 10.000.

Baca juga: Perbaikan KAI: Kontroversi Kala Jonan Menggusur Pedagang Stasiun

Dana yang minim ini membuat armada KRL ekonomi tidak pernah berganti. Usia KRL ekonomi lebih dari 18 tahun. Bahkan, KRL jenis rheostatic yang pertama kali digunakan saat KRL dari Jepang masuk Jakarta tahun 1976 masih dipakai.

Jumlah KRL ekonomi yang siap operasi sekitar 120 unit per hari dari total 400 unit KRL siap operasi. KRL ekonomi melayani 110 perjalanan dari total 460 perjalanan KRL Jabodetabek.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ukraina akan Melego 3.000 BUMN-nya, Berminat Beli?

Ukraina akan Melego 3.000 BUMN-nya, Berminat Beli?

Whats New
Bicara soal Penggunaan Mobil Listrik, Wamen BUMN: Yang Untung PLN, Yang Rugi Pertamina

Bicara soal Penggunaan Mobil Listrik, Wamen BUMN: Yang Untung PLN, Yang Rugi Pertamina

Whats New
Perjalanan Sengketa Warisan oleh Freddy Widjaja, Gugat, Cabut, Gugat Lagi

Perjalanan Sengketa Warisan oleh Freddy Widjaja, Gugat, Cabut, Gugat Lagi

Whats New
Aset Sinar Mas Group Rp 737 Triliun, Freddy Widjaja Dapat Rp 1 Miliar

Aset Sinar Mas Group Rp 737 Triliun, Freddy Widjaja Dapat Rp 1 Miliar

Whats New
[POPULER MONEY] Rincian Pelanggan yang Dapat SUbsidi Listrik | UMKM Penerima BLT

[POPULER MONEY] Rincian Pelanggan yang Dapat SUbsidi Listrik | UMKM Penerima BLT

Whats New
Sejak Maret, Harga Bitcoin Telah Melonjak hingga 180 Persen

Sejak Maret, Harga Bitcoin Telah Melonjak hingga 180 Persen

Whats New
Dana Hibah untuk UMKM Rp 2,4 Juta Mulai Dicairkan pada 17 Agustus 2020

Dana Hibah untuk UMKM Rp 2,4 Juta Mulai Dicairkan pada 17 Agustus 2020

Whats New
Luhut: Banyuwangi dan Bali Hasilnya Sangat Menggembirakan...

Luhut: Banyuwangi dan Bali Hasilnya Sangat Menggembirakan...

Whats New
PLN Siap Ganti Pembangkit Diesel Berusia di Atas 15 Tahun ke EBT

PLN Siap Ganti Pembangkit Diesel Berusia di Atas 15 Tahun ke EBT

Whats New
Pertamina: Hingga Agustus 2020, Sudah Ada 147 Pertashop di 19 Provinsi

Pertamina: Hingga Agustus 2020, Sudah Ada 147 Pertashop di 19 Provinsi

Whats New
Luhut: Ini 3 Komitmen Pemerintah Tingkatkan Wisata dan Ekonomi Kreatif

Luhut: Ini 3 Komitmen Pemerintah Tingkatkan Wisata dan Ekonomi Kreatif

Whats New
Platform Ini Luncurkan KoinGaji, Kamu Bisa Gajian Lebih Awal

Platform Ini Luncurkan KoinGaji, Kamu Bisa Gajian Lebih Awal

Rilis
Dukung UMKM, Blibli Hadirkan Festival Mie Online, Ada 1.000 Menu

Dukung UMKM, Blibli Hadirkan Festival Mie Online, Ada 1.000 Menu

Rilis
Dari Hanya 10, Kini 20.000 UMKM Shopee Sudah Tembus Pasar Ekspor

Dari Hanya 10, Kini 20.000 UMKM Shopee Sudah Tembus Pasar Ekspor

Smartpreneur
Asosiasi Pekerja Ingatkan Pemerintah Soal Data hingga Usulan Tambahan Subsidi Gaji

Asosiasi Pekerja Ingatkan Pemerintah Soal Data hingga Usulan Tambahan Subsidi Gaji

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X