Permintaan Sepeda Melonjak di Tengah Pandemi, Masyarakat Rela Inden

Kompas.com - 30/06/2020, 13:42 WIB
Sejumlah warga sedang mengayuh sepeda di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (28/6/2020). Ruas Jalan Tunjungan ramai dikunjungi pesepeda seiring meningkatnya warga bersepeda di tengah pandemi Covid-19. KOMPAS.com/GHINAN SALMANSejumlah warga sedang mengayuh sepeda di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (28/6/2020). Ruas Jalan Tunjungan ramai dikunjungi pesepeda seiring meningkatnya warga bersepeda di tengah pandemi Covid-19.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI) Rudiyono mengatakan, tren bersepeda di kala pandemi virus corona (Covid-19) membuat pihak penjual sepeda kewalahan menangani pesanan.

Bahkan, katanya, masyarakat rela melakukan pemesanan dan pembayaran di awal alias inden untuk mendapatkan sepeda yang diinginkan.

"Permintaannya banyak sekali mungkin sekitar 3 juta sampai 3,5 juta. Apalagi sekarang ini sistemnya inden ya. Jadi, itu sudah mengindikasikan jumlah berlebihan. Itu belum termasuk orang yang menunda pembelian karena harus inden," katanya ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (30/6/2020).

Baca juga: Kemenhub Bantah Bakal Pungut Pajak Sepeda

Karena sistem inden, lanjut Rudiyono, pembeli baru bisa mendapatkan barang tersebut maksimal dua pekan lamanya. Dia kembali mengatakan, rata-rata sepeda yang dibeli merupakan buatan dalam negeri.

"Paling seminggu, dua minggu (barangnya ada)," ucapnya.

Untuk semester pertama tahun ini, Rudiyono memastikan penjualan sepeda mencapai 1 juta hingga 1,2 juta unit terjual. Saat ini saja, sudah 30 persen sepeda yang sudah terjual.

Sepeda yang kini mulai dicari-cari masyarakat, membuat pihak AIPI kebingungan. Pasalnya, kejadian ini di luar ekspetasi.

Baca juga: Lilitan Utang dan Pailitnya Raksasa Sepeda Lokal Wimcycle

Menurutnya, banyaknya permintaan pembelian sepeda dari masyarakat karena ingin mengubah pola hidup yang sehat selama masa pandemi.

"Saya juga enggak tahu ada hubungan dengan daya beli atau enggak. Saya yakin ini ada hubungannya dengan peralihan gaya hidup. Dari sebelumnya kurang memperhatikan kesehatan, sekarang kesadaran berperilaku sehat lebih bagus," ujarnya.

Selain itu, lanjut Rudiyono, sistem belajar di rumah selama pandemi membuat anak-anak mulai jenuh. Maka aktivitas bersepedalah salah satu cara anak-anak mengusir kejenuhan.

"Terus juga, anak-anak sekolah juga karena enggak tahan di rumah, mungkin butuh bergerak. Itu juga berpengaruh. Tetapi aktivitas outdoor tetap saja ada," ucapnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X