Kompas.com - 02/07/2020, 17:55 WIB
Direktur Utama Bulog Budi Waseso memperlihatkan contoh karung beras yang digunakan saat penyaluran bansos pemerintah untuk wilayah Jabodetabek, Jakarta, Selasa (23/6/2020). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIDirektur Utama Bulog Budi Waseso memperlihatkan contoh karung beras yang digunakan saat penyaluran bansos pemerintah untuk wilayah Jabodetabek, Jakarta, Selasa (23/6/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso optimistis, Indonesia tidak perlu mengimpor beras hingga akhir tahun.

Ini meskipun ada peringatan Food Agriculture Organization (FAO) tentang ancaman krisis pangan dunia akibat kekeringan yang melanda.

Ia meyakini produksi beras dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun. Ini dikuatkan dengan penghitungan Kementerian Pertanian yang memperkirakan pasokan beras tahun ini surplus 5-6 juta ton.

Baca juga: Bulog Serap 700 Ton Beras Petani Sepanjang Semester I 2020

"Pengalaman saya dua tahun di Bulog, saya membuktikan selama kepemimpinan, kami tidak pernah mengimpor. Insya Allah sampai tahun ini tidak impor beras sebutir pun," katanya webinar Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju, Kamis (2/7/2020).

Buwas, sapaan akrabnya, menyatakan beras asal Indonesia memang masih kalah bersaing dengan beras impor, terutama dari segi harga.

Ia mencontohkan, seperti beras impor kualitas premium yang hanya dihargai Rp6.500 per kilogram saat tiba di pelabuhan Indonesia. Sementara, dengan kualitas yang sama harga beras dalam negeri sesuai acuan pemerintah berkisar Rp12.000-Rp13.000 per kilogram.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Perbedaan harga ini dikarenakan, sistem budidaya pertanian di Indonesia masih konvensional, sehingga memakan biaya produksi yang besar. Sementara di luar negeri, sudah menerapkan mekanisme yang lebih modern.

Baca juga: BPS: Harga Beras Semua Kualitas pada Juni 2020 Sangat Terkendali

Dalam kondisi menghadapi krisis pangan, memang mengimpor beras akan jauh lebih efisien. Namun, Buwas menegaskan, persoalan impor beras juga menyangkut kehidupan jutaan petani dalam negeri.

Terlebih Indonesia merupakan negara agraris, yang sudah seharusnya memegang prinsip mampu memproduksi beras sendiri untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

"Ini soal harga diri kita, sebagai negara agraris harusnya enggak boleh impor pangan. Kita harus berpihak kepada petani dan menguatkan segala aspek, terutama pangan," katanya.

Oleh sebab itu, Buwas memastikan Bulog akan memenuhi tugasnya dalam melakukan penyerapan beras dari para petani guna menjamin pasokan dan mendorong perekonomian.

Hingga Juni 2020 Bulog telah menyerap 700 ton beras dari petani atau mencapai 50 persen dari target tahun ini yang sebanyak 1,4 juta ton.

Baca juga: Ada Temuan Beras Bansos Tak Layak Konsumsi, Apa Kata Buwas?

Adapun saat ini total stok beras Bulog masih berkisar 1,4 juta ton. Bulog sendiri sebensarnya memiliki kapasistas gudang hingga 3,6 juta ton beras.

“Jadi saya bertahan untuk enggak impor, karena memang juga Mentan menyakinkan kalau produksi kita surplus,” pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Optimalkan Lahan Sekitar Stasiun, KAI Kembangkan Kawasan TOD

Optimalkan Lahan Sekitar Stasiun, KAI Kembangkan Kawasan TOD

Whats New
Perluas Investasi ke Startup Indonesia, Capria Ventures Gandeng Perusahaan Investasi Milik Pandu Sjahrir

Perluas Investasi ke Startup Indonesia, Capria Ventures Gandeng Perusahaan Investasi Milik Pandu Sjahrir

Rilis
Sebut Gernas BBI dan Penanganan Covid-19 Baik, Luhut: Itu karena Leadership Presiden yang Kuat

Sebut Gernas BBI dan Penanganan Covid-19 Baik, Luhut: Itu karena Leadership Presiden yang Kuat

Whats New
Penerimaan Pajak Tembus Rp 741,3 Triliun, Sri Mulyani: Konsumsi Mulai Membaik

Penerimaan Pajak Tembus Rp 741,3 Triliun, Sri Mulyani: Konsumsi Mulai Membaik

Whats New
IHSG Menguat pada Penutupan Sesi I, Rupiah Melemah

IHSG Menguat pada Penutupan Sesi I, Rupiah Melemah

Whats New
Dua Tahun Eksis, Ajaib Gandeng Lebih dari 1 Juta Investor Saham

Dua Tahun Eksis, Ajaib Gandeng Lebih dari 1 Juta Investor Saham

Rilis
Saling Bantah Pejabat Kemendag Vs Kementan soal Stok Jagung

Saling Bantah Pejabat Kemendag Vs Kementan soal Stok Jagung

Whats New
Dana Simpanan Dijamin, LPS Minta Masyarakat Tak Khawatir Nabung di Bank Digital

Dana Simpanan Dijamin, LPS Minta Masyarakat Tak Khawatir Nabung di Bank Digital

Whats New
Gelar RUPSLB, Pemegang Saham Setujui Rencana Stock Split Saham BBCA

Gelar RUPSLB, Pemegang Saham Setujui Rencana Stock Split Saham BBCA

Whats New
Agustus 2021, Defisit APBN Tembus Rp 383,2 Triliun

Agustus 2021, Defisit APBN Tembus Rp 383,2 Triliun

Whats New
Pemerintah Batasi Pintu Masuk Kedatangan Internasional, Simak Lokasi dan Syaratnya

Pemerintah Batasi Pintu Masuk Kedatangan Internasional, Simak Lokasi dan Syaratnya

Whats New
Tren Penurunan Harga Bitcoin Dinilai Masih dalam Batas Wajar

Tren Penurunan Harga Bitcoin Dinilai Masih dalam Batas Wajar

Whats New
Daftar Harga Sembako Hari Ini di Jakarta

Daftar Harga Sembako Hari Ini di Jakarta

Whats New
Sri Mulyani Waspadai Dampak Evergrande karena Bisa Pengaruhi Ekspor RI

Sri Mulyani Waspadai Dampak Evergrande karena Bisa Pengaruhi Ekspor RI

Whats New
Mendag Pertanyakan Klaim Data Kementan soal Stok Jagung 2,3 Juta Ton

Mendag Pertanyakan Klaim Data Kementan soal Stok Jagung 2,3 Juta Ton

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.