CSIS: Inflasi Rendah karena Daya Beli Masyarakat Menurun

Kompas.com - 03/07/2020, 16:40 WIB
Ilustrasi shutterstock.comIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasca merebaknya virus corona atau Covid-19 di Indonesia sejak Maret lalu, laju inflasi cenderung terus bergerak rendah. Bahkan, pada bulan Juni, saat pemerintah sudah mulai melonggarkan berbagai kebijakan pembatasan pergerakan, inflasi masih bulanan masih berada di level 0,18 persen.

Peneliti Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Haryo Aswicahyono mengatakan, pergerakan indeks harga konsumen (IHK) yang relatif rendah diakibatkan melemahnya permintaan masyarakat.

" Inflasi karena tidak banyak permintaan, inflasi juga rendah," katanya dalam sebuah diskusi virtual, Jumat (3/7/2020).

Baca juga: Imbas Corona, Indonesia Kehilangan Daya Beli hingga Rp 362 Triliun

Penurunan daya beli masyarakat tersebut tidak lepas dari terpukulnya pendapatan masyarakat, khususnya yang mendapatkan pendapatannya secara harian.

Diterapkannya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mengakibatkan pekerja yang mendapatkan upah secara harian tidak dapat beraktivitas.

"Kalau dia tidak melakukan kegiatan ekonomi, dia tidak memiliki daya beli," katanya.

Lebih lanjut Haryo menjelaskan, bila daya beli masyarakat tidak ditingkatkan, maka konsumsi rumah tangga diproyeksi masih rendah.

"Masalahnya kelas bawah itu upahnya harian, mingguan. Jadi kalau mereka tidak bekerja memang tidak punya daya beli," kata dia.

Baca juga: Inflasi Juni 0,18 Persen

Oleh karenanya, menurut Haryo, penerapan tatanan normal baru atau new normal merupakan salah satu upaya penyelamatan bagi pekerja harian tersebut.

"Setelah sekian bulan kelompok yang mendapatkan penghasilan harian itu pasti tabungannya sudah habis. Pelonggaran ini suatu keterpaksaan demi mereka yang tidak bisa bekerja selama PSBB," tuturnya.

Sebagai informasi, meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) masih belum merilis data resmi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020, namun konsumsi rumah tangga diproyeksi banyak pihak akan lebih tertekan dibandingkan kuartal I 2020, yang tumbuh 2,84 persen.

Pasalnya, pada April, Mei, dan Juni, pemerintah menerapkan berbagai aturan pembatasan pergerakan, yang berimbas terhadap menurunnya daya beli masyarakat.

Baca juga: Melihat Tingkat Daya Beli Petani di Tengah Pandemi Covid-19



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X