Kompas.com - 05/07/2020, 14:16 WIB
Ryan Adam Saputra Angkawijaya pemilik Snazzy Boom DOKUMENTASI IG SNAZZY BOOMRyan Adam Saputra Angkawijaya pemilik Snazzy Boom

Selain itu, Ryan juga terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai upaya efisiensi.  Dia hanya mempertahankan para karyawan yang memiliki kompetensi serta loyalitas untuk tetap bekerja di perusahaannya.

"Memang saya putuskan untuk meng-cut beberapa karyawan yang kami anggap tidak mau bekerja. Kita juga harus menyelamatkan dari sisi organisasi dan melihat siapa yang benar-benar mau bekerja, yang memiliki loyalitas ke perusahaan, berkompeten dan memiliki integritas yang tinggi," katanya.

Adapun upaya ketiga adalah dengan memanfaatkan marketplace dengan menggaet para reseller dan agen-agen area.

Cara ini menurut dia cukup berhasil. Per bulannya sebutnya, penambahan jumlah reseller selama masa pandemi bisa mencapai 200-an reseller.

Dengan bertambahnya jumlah reseller ini kata dia, mulai menunjukkan perubahan yang positif.

"Dengan melakukan cara-cara ini dan ditambah berkat adanya reseller baru, transaksi penjualan kami mulai naik. Di Juni kemarin kenaikannya mencapai dua kali lipat, dan untuk bulan ini saya optimistis juga akan naik," ungkapnya.

Baca juga: Usaha Kuliner dari Rumah, Nelam Raup Omzet Rp 2 Juta Per Hari

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara terkait pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai wilayah, dia mengaku tidak terlalu terganggu. Meski menurut dia, hal ini membuat  beberapa reseller harus datang ke gudang JNE untuk mengambil barang yang ia kirim.

"Karena ada PSBB kemarin di beberapa wilayah, reseller kami jadi harus menjemput ke gudang JNE langsung sih, biasanya kan diantar ke rumah mereka masing-masing. Cuma memang enggak terlalu berdampak sama perusahaan," jelasnya.

Sementara mengenai kebutuhan bahan baku, Ryan mengakui adanya sedikit masalah. Bukan dikarenakan ketidaktersediaan stok, hanya saja harga untuk bahan bakunya yaitu gula, harganya relatif mahal.

Untuk menyiasatinya, Ryan harus mengorbankan sedikit marginnya untuk keluar dan menaikkan harga produknya.

"Yang biasanya harganya, misalnya Rp 13.000 per pack saya naikkan menjadi Rp 14.000. Margin saya setengah pun juga saya korbankan lah untuk menutupi biaya produksi," ucapnya.

Ryan yakin dengan upaya-upaya yang dilakukannya tersebut bisa membuat usahanya tetap bertahan di tengah pandemi ini.

Baca juga: 6 Ide Bisnis Kreatif yang Bisa Mendatangkan Banyak Rupiah

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.