Sebelum Indonesia, Negara-negara Ini Sudah Lebih Dulu Pungut PPN untuk Netlfix dkk

Kompas.com - 05/07/2020, 19:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemnekeu) bakal segera memungut pajak pertambahan nilai (PPN) untuk setiap transaksi perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE).

Aturan mengenai pemungutan pajak tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 1/2020 yang telah ditetapkan sebagai UU No 2 tahun 2020. Besaran PPN yang dipungut atas setiap transaksi PMSE sebesar 10 persen.

Saat ini, pemerintah masih dalam proses penunjukan perusahaan atau pelaku usaha PMSE yang bakal memungut pajak terhadap para konsumennya.

Kebijakan penarikan PPN ini pun sebenarnya telah ditetapkan di beberapa negara lain di dunia.

Baca juga: Sederet Klaim Kementan Soal Kalung Ajaib Eucalyptus Anticorona

Australia misalnya, Negeri Kanguru ini telah lebih dahulu menarik PPN terhadap setiap traksaksi jasa digital atau elektronik pada Juli 2017 lalu.

Pemerintah Australia memberlakukan pajak sebesar 10 persen untuk setiap transaksi digital atau elektronik yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing.

Beberapa kegiatan atau jasa yang masuk di dalam definisi jasa elektronik bagi pemerintah Australia adalah streaming atau download musik, film, aplikasi hingga games, e-books, jasa profesional onoine, hingga jasa penyimpanan hingga cloud.

Hal serupa juga dilakukan oleh  Korea Selatan. Otoritas fiskal Negeri Ginseng ini telah mewajibkan pelaku usaha PMSE luar negeri untuk memungut pajak digital terhadap pelanggannya.

Namun demikian, pemerintah setempat tidak menetapkan besaran pajak yang dipungut oleh para pelaku usaha digital. Tetapi setiap perusahaan digital asing wajib untuk mendafatarkan diri ke otoritas perpajakan setempar mengenai pemungutan pajak.

Sementara itu, Jepang dan India juga telah menerapkan pajak atas barang dan jasa digital masing sejak tahun 2015 dan 2017.

Untuk Jepang, besaran pajak yang harus dibayarkan atas transaksi produk digital oleh konsumen sebesar 10 persen.

Adapun di India, besaran pajak yang dipungut kepada para konsumen sebesar 18 persen.

Baca juga: Ini Kekayaan Pemilik Susi Air dan Mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Aplikasi SFAST untuk Investasi, Apa Saja Keunggulannya?

Aplikasi SFAST untuk Investasi, Apa Saja Keunggulannya?

Earn Smart
BSBK Bakal Bangun Mal Ketiga di Balikpapan Superblock

BSBK Bakal Bangun Mal Ketiga di Balikpapan Superblock

Rilis
Mengenal Istilah ARB di Bursa Efek

Mengenal Istilah ARB di Bursa Efek

Earn Smart
Cuma Menabung 2 Bulan Bisa Dapat “Cashback” Jutaan Rupiah? Begini Caranya

Cuma Menabung 2 Bulan Bisa Dapat “Cashback” Jutaan Rupiah? Begini Caranya

BrandzView
Citibank Gandeng Home Credit Luncurkan Fasilitas Pembiayaan Sosial Senilai Rp 275 Miliar

Citibank Gandeng Home Credit Luncurkan Fasilitas Pembiayaan Sosial Senilai Rp 275 Miliar

Whats New
Tebar Kebaikan, Sido Muncul Bantu Operasi Katarak Gratis bagi 150 Penderita di Bandung

Tebar Kebaikan, Sido Muncul Bantu Operasi Katarak Gratis bagi 150 Penderita di Bandung

BrandzView
Debat Panas Stok Beras Kementan Vs Bulog, Jokowi sampai Turun Tangan

Debat Panas Stok Beras Kementan Vs Bulog, Jokowi sampai Turun Tangan

Whats New
Penerbangan Indonesia Akan Masuk 4 Besar Dunia

Penerbangan Indonesia Akan Masuk 4 Besar Dunia

Whats New
Turunkan Inflasi, BI Ajak Masyarakat Tanam Cabai di Pekarangan Rumah

Turunkan Inflasi, BI Ajak Masyarakat Tanam Cabai di Pekarangan Rumah

Whats New
Gurita Bisnis Hartono Bersaudara, Pemilik BCA, Djarum, hingga Puluhan Media Online

Gurita Bisnis Hartono Bersaudara, Pemilik BCA, Djarum, hingga Puluhan Media Online

Whats New
500.000 Ton Beras Impor Akan Masuk RI hingga Februari 2023

500.000 Ton Beras Impor Akan Masuk RI hingga Februari 2023

Whats New
IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 1,38 Persen, GOTO, AMRT, dan EXCL Jadi 'Top Losers'

IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 1,38 Persen, GOTO, AMRT, dan EXCL Jadi "Top Losers"

Whats New
Profil Profesor Gudono, Besan Jokowi yang Merupakan Pakar Keuangan UGM

Profil Profesor Gudono, Besan Jokowi yang Merupakan Pakar Keuangan UGM

Whats New
Loket Stasiun Sukabumi Dirusak Calon Penumpang, KAI Pastikan Layanan Berjalan Normal

Loket Stasiun Sukabumi Dirusak Calon Penumpang, KAI Pastikan Layanan Berjalan Normal

Whats New
Harga Kebutuhan Pokok Naik Jelang Nataru,  Mulai dari Cabai, Telur, hingga Beras

Harga Kebutuhan Pokok Naik Jelang Nataru, Mulai dari Cabai, Telur, hingga Beras

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.