Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengusaha: Kita Asyik Bangun Infrastruktur, tapi Lalai Kembangkan Industrinya

Kompas.com - 09/07/2020, 17:32 WIB
Akhdi Martin Pratama,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengusaha jasa konstruksi yang terbangung di Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) menilai, pemerintah sibuk membangun banyak infrastruktur di Indonesia, tetapi melupakan pengembangan industri di dalam negeri.

“Saat ini kita lagi asyik membangun infrastruktur, tapi kita lalai membangun (kembangkan) industrinya. Serta telat meningkatkan kualitas industrinya,” ujar Sekjen BPP Gapensi Andi Rukman dalam webniar, Kamis (9/7/2020).

Pengusaha mengeluhkan maraknya peredaran baja impor di dalam negeri. Bahkan, baja impor tersebut tak memiliki label Standar Nasional Indonesia (SNI).

Baca juga: Presiden hingga Pejabat Eselon II Tak Dapat THR, Belanja Pegawai Turun

“Hampir semua teman-teman di daerah ini mengeluhkan dengan kondisi kejadian yang menimpa mereka, yakni beredarnya produksi baja yang tidak berlebel SNI,” ucapnya.

Akibatnya, produk baja impor membanjiri pasar di dalam negeri.

Dia berharap pemerintah bisa memberi proteksi kepada produsen baja di dalam negeri. Menurut dia, baja buatan dalam negeri tak kalah dengan buatan negara lainnya.

“Kebutuhan kita pada industri baja ini 15-20 juta, kita mampu untuk melakukan itu. Dengan catatan, pemerintah harus tegas memproteksi pemain baja nasional ini untuk menutup keran impor,” ucap dia.

Baca juga: Kecuali STAN dan STMKG, Sekolah Kedinasan Tetap Dibuka Tahun Ini

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com