Pandemi Covid-19, Mampukah Startup Indonesia Bertahan?

Kompas.com - 10/07/2020, 12:03 WIB
. SHUTTERSTOCK.

Tekanan yang dialami selama pandemi tergambar dalam penurunan terhadap jumlah pengunjung/pengunduh aplikasi, jumlah transaksi per bulan, nilai transaksi per bulan dan jenis produk/layanan yang ditawarkan.

Jumlah startup dengan nilai transaksi di atas Rp 1 miliar-Rp 100 miliar per bulan, banyak yang mengalami penurunan omzet menjadi di bawah Rp 1 miliar, yakni dari 30,2 persen menjadi 14,7 persen.

Namun, jumlah startup dengan transaksi di atas Rp 100 miliar yang semula sebanyak 10,9 persen startup mengalami kenaikan menjadi 13,2 persen.

Selain pergeseran jumlah transaksi, juga terjadi perubahan preferensi konsumen yang diikuti startup dengan dengan perubahan jenis dan fokus layanan. Misal sektor pendidikan terjadi perubahan permintaan dari kursus offline menjadi online.

Kendati demikian, Mulya melihat angka 48,9 persen startup yang bisa bertahan hingga 2021 mendatang, merupakan kabar baik yang cukup menjanjikan. Sebab, menunjukkan adanya kestabilan pada banyak startup di Tanah Air untuk bisa bertahan di tengah pelemahan ekonomi.

"Mungkin mereka menemukan model bisnis yang bagus dan bisa bertahan di kala pandemi, atau karena punya cadangan pendanaan yang besar sebelum pandemi, sehingga kini mereka punya tabungan untuk bertahan," jelasnya.

Baca juga: 4 Perusahaan Startup Lakukan PHK Akibat Covid-19, Apa Saja ?

Di sisi lain, dari sejumlah tekanan yang membuat sebagian besar startup melakukan efisiensi, ada beberapa startup yang malah menambah biaya produksi, jumlah karyawan, hingga menaikkan gaji karyawan.

Sebanyak 10,1 persen startup yang menambah karyawan (di bawah 50 persen) dan 0,7 persen jumlah karyawannya sangat bertambah (di atas 50 persen). Juga ada 5,8 persen startup yang memilih untuk menaikkan gaji karyawannya.

Kemudian 14,4 persen startup yang mengaku malah meningkatkan biaya promosi, bahkan 3,6 persen sangat menambah biaya promosi di tengah pandemi. Begitupula dengan, 10,1 persen startup yang malah menambah biaya produksi.

Mulya menyatakan, pandemi memang memukul sebagian besar startup, namun dalam survei juga ditemukan ada beberapa startup yang mampu meningkatkan kondisi kesehatan perusahaan sehingga menjadi di posisi baik atau sangat baik, dari sebelumnya berada di posisi dengan kondisi biasa saja.

"Jadi dalam kondisi pandemi tidak 100 persen startup terkena dampak negatif. Ada yang bisa memanfaatkan peluang, terutama bagi yang inovatif," pungkasnya.

Baca juga: Kaleidoskop 2019: Indonesia Punya 1 Decacorn dan 4 Unicorn

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X