Mendag Sebut IA-CEPA Bakal Tekan Defisit Perdagangan dengan Australia

Kompas.com - 10/07/2020, 18:03 WIB
 Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto sebelum pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju serta pejabat setingkat menteri. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto sebelum pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju serta pejabat setingkat menteri.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meyakini, Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA-CEPA) bisa menekan defisit perdagangan Indonesia atas Australia.

Pada tahun 2019, perdagangan Indonesia dengan Australia mengalami defisit 3,2 miliar dollar AS. Ekspor ke Australia tercatat 2,3 miliar dolaar AS, sedangkan impor dari Australia mencapai 5,5 miliar dollar AS.

"Ini merupakan defisit yang cukup besar. Sehingga dengan adanya IA-CEPA ini kita akan mengurangi defisit tersebut," kata Agus dalam konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (10/7/2020).

Baca juga: Menhub ke Aplikator Ojol: Buatlah Shelter yang Bagus...

Perjanjian IA-CEPA yang resmi berlaku 5 Juli 2020 ini, memang memberikan manfaat bagi eksportir Indonesia dengan menikmati tarif bea masuk nol persen untuk semua produk ke pasar Australia. Begitu pula, produk Australia ke Indonesia bisa mendapat tarif bea masuk nol persen.

Adapun produk Indonesia yang berpotensi meningkat ekspornya antara lain otomotif, kayu dan turunannya termasuk kayu dan furnitur, perikanan, tekstil dan produk tekstil, sepatu, alat komunikasi, dan peralatan elektronik.

Oleh sebab itu, Agus optimistis defisit neraca perdagangan Indonesia dan Australia bisa ditekan. Targetnya, bahkan setidaknya menurunkan 50 persen angka defisit, jika sebelumnya 3,2 miliar dollar AS maka akan menjadi 1,6 miliar dollar AS.

Baca juga: Pengakuan Nelayan: Pengusaha Sikut-Sikutan Rekrut Nelayan Demi Dapat Jatah Ekspor Benur

"Berkaitan dengan defisit, ekspektasi kita kalau bisa kejar target separuhnya, kalau pun bisa yah surplus," ujar Agus.

Menurutnya, penurunan defisit ini akan mulai terasa di tahun 2020 namun tidak signifikan, karena perekonomian masih terdampak pandemi Covid-19. Penurunan defisit diperkirakan akan sangat signifikan terjadi di tahun 2021.

"Saya melihat akan ada pengurangan yang signifikan itu di tahun 2021. Jadi tidak di tahun ini, karena juga baru mulai (perjanjiannya) Diharapkan berkurang, tapi secara signifikan di tahun 2021," pungkas Agus.

Baca juga: Mayora Buka Lowongan Kerja Lewat Program MDP, Simak Syaratnya



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X