[POPULER MONEY] Tahapan yang Dilalui Penumpang Lion | Defisit Selalu Ditambal dengan Utang

Kompas.com - 12/07/2020, 08:00 WIB
Proses boarding penumpang ke pesawat Lion Air pada masa pelayanan penerbangan penumpang bersyarat. Dokumentasi Lion AirProses boarding penumpang ke pesawat Lion Air pada masa pelayanan penerbangan penumpang bersyarat.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan new normal mendorong berbagai operator transportasi menjalankan sejumlah prosedur guna mencegah penebaran Covid-19. 

Hal itu termasuk dijalankan oleh Lion Air. Berita mengenai tahapan yang harus dilalui penumpang Lion menjadi yang terpopuler sepanjang hari kemarin, Sabtu (11/7/2020).

Sementara itu berita lain yang juga masuk terpopuler adalah soal defisit APBN yang selalu ditambal dengan utang. Berikut adalah daftar berita terpopuler sepanjang hari kemarin:

1. Catat, 3 Tahap yang Harus Dilalui Penumpang Lion Air Sebelum Terbang

Memasuki era tatanan normal baru atau new normal, pemerintah masih menerapkan berbagai persyaratan bagi masyarakat yang ingin berpergian dengan maskapai.

Mulai dari surat pernyataan bebas Covid-19 hingga Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang diterapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, masih menjadi syarat wajib bagi para calon penumpang pesawat.

Lion Air Group menyatakan, seluruh penumpang yang terbang bersama Lion Air, Wings Air, dan Batik Air dipastikan memiliki dan menjalankan persyaratan yang diberikan pemerintah. Selengkapnya silakan baca di sini.

2. Penasaran Kenapa APBN Selalu Defisit dan Ditambal dengan Utang?

APBN setiap tahunnya bisa dikatakan selalu defisit anggaran, artinya pengeluaran selalu lebih besar daripada penerimaan negara. Kekurangan anggaran negara ini selalu ditutup dengan utang.

Besaran utang pemerintah dari tahun ke tahun cenderung terus meningkat. Untuk membiayai APBN, selain utang luar negeri, utang juga berasal dari domestik, seperti penerbitan surat utang negara (SUN). Lalu kenapa APBN selalu defisit dan ditambal dengan utang?

Mengutip laman resmi Kementerian Keuangan, Sabtu (11/7/2020), alasan utama mengapa negara berutang yakni untuk mengejar ketertinggal infrastruktur, lalu kedua utang diperuntukkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Selengkapnya silakan baca di sini.

3. Kekayaan CEO Tesla Elon Musk Melesat Rp 86,4 Triliun dalam Sehari

CEO Tesla Elon Musk menyalip investor kawakan Warren Buffett dalam indeks Bloomberg Billionaires dan menjadi orang terkaya ketujuh di dunia.

Dilansir dari CNN, Sabtu (11/7/2020), kekayaan Musk melonjak lebih dari 6 miliar dollar AS atau setara sekira Rp 86,4 triliun (kurs Rp 14.410 per dollar AS) pada Jumat (10/7/2020). Ini terjadi setelah saham Tesla meroket 10,8 persen ke rekor level 1.544 dollar AS per saham.

Musk sendiri memiliki 20,8 persen saham Tesla. Dengan kinerja saham Tesla yang cemerlang itu, maka nilai kepemilikan saham Musk mencapai hampir 60 miliar dollar AS atau setara sekira Rp 864,2 triliun. Selengkapnya silakan baca di sini.

4. Membandingkan Total Utang Pemerintah Vs Aset Negara

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara ( DJKN) Kementerian Keuangan mencatatkan nilai aset negara saat ini mencapai Rp 10.467,5 triliun. Jumlah tersebut meningkat 65 persen dari nilai sebelumnya yang mencapai Rp 6.325 triliun.

Lonjakan nilai aset pemerintah terjadi lantaran dilakukan perhitungan kembali aset negara atau revaluasi pada tahun 2018 hingga tahun 2020 ini.

Direktur Barang Milik Negara (BMN) Ditjen Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Encep Sudarwan pun mengatakan, hasil revaluasi tersebut telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Selengkapnya silakan baca di sini.

5. "Social Media Crisis" dan Menjaga Reputasi Perusahaan

BARU-BARU ini viral di media sosial unggahan karyawan sebuah waralaba kopi terkenal yang melakukan pemantauan terhadap seorang pelanggan (costumer) lewat Closed Circuit Television (CCTV).

Pada akhirnya, kasus itu berujung pemecatan dan tindakan hukum atas karyawan tersebut. Lewat CCTV Praktisi Public Relations (PR) pasti paham bahwa bencana sesungguhnya dari sebuah krisis tidak berhenti pada kejadian namun pada reputasi perusahaan.

Jika tidak ditangani dengan seksama, hati-hati dan cepat bisa merontokan kinerja perusahaan. Terlebih karakteristik waralaba ini merupakan perpaduan antara jasa dan produk, yang sejak awal memahami positioning dan segmentasi. Selengkapnya silakan baca di sini.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X