Dari 2,3 Juta UMKM, Baru 200.000 yang Manfaatkan Insentif Pajak

Kompas.com - 13/07/2020, 16:09 WIB
Ilustrasi UMKM shutterstock.comIlustrasi UMKM

JAKARTA, KOMPAS.com – Kondisi pandemi Covid-19 membuat banyak industri terdampak, terutama UMKM (Usaha Menengah Kecil dan Mikro) mengalami beban yang cukup berat.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan dan Kementerian Koperasi dan UMKM terus berupaya membangkitkan sektor UMKM agar tetap bertahan di masa serba sulit ini dengan beragam insentif.

Insentif pajak yang diberikan oleh pemerintah untuk kembali menggairahkan UMKM, nyatanya dirasa masih kurang optimal.

Baca juga: Sri Mulyani Kisahkan Semangat Tiga Pelaku UMKM yang Manfaatkan Stimulus

Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Suryo Utomo menyebutkan hingga saat ini hanya ada sekira 200.000  UMKM yang mendaftarkan diri untuk memperoleh insentif pajak.

Jumlah ini tentunya jauh dari total UMKM yang tahun lalu sudah tercatat sebagai wajib pajak.

“Dari statistik yang kami miliki, sampai dengan hari ini yang mendaftar untuk mndapatkan manfaat insentif pajak atau untuk tidak dipungut PPh UMKM ini baru sekitar 200.000-an wajib pajak. Tahun kemarin yang membayar ada 2,3 juta lebih, ini kurang dari 10 persen dibandingkan tahun kemarin,” kata Suryo dalam konferensi virtual, Senin (13/7/2020).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Minimnya UMKM yang mendaftar untuk memperoleh insentif tersebut membuat Suryo bertanya, apakah pendaftaran cukup sulit atau memang ada masalah lain yang dihadapai UMKM.

Baca juga: Ini Daftar Insentif yang Bisa Didapatkan UMKM dan Syarat-syaratnya

Padahal dengan memanfaatkan internet, seluruh pendaftaran insentif pajak bisa dilakukan UMKM tentunya cukup mudah tanpa perlu susah payah hadir ke kantor pajak.

“Cara pendaftaran enggak susah, karena ada fasilitas online. Mungkin sosialisasi kurang cukup, padahal kemarin ada 2 jutaan e-mail kita kirimkan serentak. Tapi secara statistik angka 200.000 ini belum bergerak signifikan,” tambahnya.

Sebelum masa pandemi Covid-19, pemerintah menarik pajak penghasilan UMKM sebesar 1 persen dari omzet. Selain tarifnya rendah, penghitungannya juga mudah.

Namun, pada tahun 2018 pemerintah kembali menggelontorkan insentif ekstra untuk UMKM yaitu tarif pajak penghasilan yang hanya dibebankan sebesar 0,5 persen bagi UMKM dengan omzet bawah Rp 4,8 miliar per tahun.

“Pada kondisi pandemi kemarin, sebagian besar UMKM berdampak, jadi insentif yang bisa kita gunakan ke mereka yang 0,5 persen itu kita beri kebebasan. Jadi 0,5 persen itu yang seharusnya dibayar, tidak perlu dibayar tapi pemerintah yang tanggung,” jelas dia.

Suryo menjelaskan pemerintah menggelontorkan dana Rp 123 triliun dalam keseluruhan pagu yang untuk menggerakkan UMKM dimana total insentif untuk PPh 0,5 persen adalah Rp 2,4 triliun.

Nominal ini rencanya akan dibebaskan sampai dengan September 2020 dan rencananya akan diperpanjang sampai Desember 2020.

“Paling tidak, UMKM bisa memanfaatkan 0,5 persen dari omzet tadi untuk menjaga kelangsungan usaha dan mengembangkan lagi, atau dengan dana Rp 123 triliun yang secara bertahap dijalankan,” tambah dia.

Baca juga: Penyerapan Dana PEN Sektor Koperasi dan UMKM Baru 6,82 Persen

Sementara itu, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit menyebutkan selama pandemi Covid-19 Kemenkop aktif melakukan sosialisasi kepada UMKM untuk menyadari pentingnya membayar pajak.

Namun, kurangnya pengetahuan membuat bayak UMKM yang belum sadar akan manfaat insentif pajak tersbut.

“Tantangannya, UMKM itu kurang memahami manfaatnya. Ini yang kalau bisa ke depan kita bersama di level daerah, dinas pajak dan koperasi aktif mensosialisasikan dengan menguabah mindset UMKM, ternyata pajak itu tidak mengerikan, tapi justru memberikan kehidupan,” jelas Victoria.

Victoria juga menyebut, hal ini bisa dilakukan dengan mulai mengubah struktur bahasa agar lebih ramah UMKM. Sehingga para pelaku UMKM tidak merasa terbebani, dan bahkan tertangkap ketika akan mengurus pajaknya.

Baca juga: Ada Pandemi, Gojek Sebut 100.000 Mitra UMKM Masuk ke Ranah Digital

“Itulah mengapa bahasanya bisa diubah dari ‘insentif’ menjadi ‘diskon pajak’. Sehingga saat mereka datang ke kantor pajak, tidak merasa takut seperti mau ditangkap,” tambah dia.

Victoria juga menjelaskan, Kemenkop dan UMKM terus melakukan pendampingan bagi para UMKM dalam mendapatkan insentif pajak. Namun, yang menjadi persoalan adalah pendamping yang mendampingi pelaku UMKM terkadang masih belum paham mengenai pajak.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X