Indonesia Akan Genjot Ekspor Pupuk ke Pasar Ukraina

Kompas.com - 14/07/2020, 19:00 WIB
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto di Kementerian Koordiantor Perekonomian, Jakarta, Senin (3/2/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Perdagangan Agus Suparmanto di Kementerian Koordiantor Perekonomian, Jakarta, Senin (3/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Ukraina telah mengehentikan penyelidikan safeguard atas impor produk pupuk nitrogen jenis tertentu (certain nitrogen fertilizer) dan pupuk majemuk (complex fertilizer) ke negaranya. Ini potensi bagi Indonesia untuk menggenjot ekspor produk pupuk ke pasar Ukraina.

“Hal ini merupakan kabar gembira bagi Indonesia yang berupaya mendorong peningkatan ekspor ke negara-negara nontradisional. Kami mengharapkan produsen/eksportir Indonesia dapat memanfaatkan peluang ekspor ini,” ujar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dalam keterangan resminya, Selasa (14/7/2020).

Pemerintah Ukraina resmi menghentikan penyelidikan safeguard tersebut sebagaimana dituangkan dalam notifikasi Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) pada tanggal 2 Juli 2020. Alasannya, hasil penyelidikan bertentangan dengan kepentingan nasional Ukraina.

Baca juga: YLKI Minta Pembukaan Bioskop Ditunda, Ini Alasannya

Sebelumnya, otoritas Ukraina menginisiasi penyelidikan safeguard atas impor produk pupuk dimaksud pada 28 Agustus 2019.

Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Pengamanan Perdagangan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan KBRI Ukraina berpartisipasi aktif selama proses penyelidikan dengan menyampaikan sanggahan secara tertulis, serta memantau perkembangan penyelidikan secara intensif.

Plt. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Srie Agustina meyakini Indonesia berpeluang besar dikecualikan dalam pengenaan tindakan safeguard Ukraina, meskipun penyelidikan safeguard ini tidak dihentikan oleh Otoritas Ukraina.

“Indonesia bukan penyumbang kenaikan impor produk certain nitrogen fertilizer dan complex fertilizer di Ukraina dan kita bisa merebut pasar yang ditinggalkan oleh negara yang dikenakan,” kata Srie.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja ekspor certain nitrogen fertilizer dan complex fertilizer tersebut dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukkan pertumbuhan positif. Negara yang menjadi tujuan ekspor antara lain India, Filipina, Australia, Malaysia dan Kanada.

Baca juga: Ini Penyebab Insentif Kartu Prakerja Belum Cair

Pada periode Januari-April 2020, terjadi peningkatan kedua ekspor produk tersebut sebesar 92,96 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sedangkan pada 2019, Indonesia berhasil membukukan nilai ekspor sebesar 571.000 dollar AS atau meningkat 49,4 persen dibanding tahun 2018 dengan nilai ekspor 382.200 dollar AS.

Kendati demikian, Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati menambahkan, guna mendorong ekspor ke negara nontradisional termasuk Ukraina, Indonesia tetap perlu mengamati agresivitas Ukraina dalam menginisiasi penerapan instrumen pengamanan perdagangan (trade remedies).

“Kami perlu terus mengamati perkembangan ke depan, mengingat Ukraina cukup agresif dalam menggunakan instrumen trade remedies, khususnya safeguard dengan telah menginisiasi tiga penyelidikan pada semester I tahun 2020,” ungkap Pradnyawati.

Baca juga: Fakta Seputar Resesi Parah yang Melanda Singapura



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X