Riset IDEAS Ungkap Potensi Kurban dan Penerima Daging Bakal Tak Merata, Ini Alasannya

Kompas.com - 15/07/2020, 15:17 WIB
Proses Pembungkusan Daging Kurban di Jakarta Islamic Center menggunakan besek bambu dan Keranjang Tape JIMMY RAMADHAN AZHARIProses Pembungkusan Daging Kurban di Jakarta Islamic Center menggunakan besek bambu dan Keranjang Tape

JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil riset dari Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) menunjukkan adanya potensi kurban Indonesia tidak terdistribusi secara merata, hal ini mencerminkan kesenjangan pendapatan antar wilayah di Indonesia.

Kesenjangan yang lebar terjadi antara daerah perkotaan Jawa dengan wilayah lainnya. Potensi kurban terbesar datang dari wilayah aglomerasi utama Jawa karena di sana terdapat mayoritas kelas menengah muslim dengan daya beli tinggi.

“Dari sekitar 5,6 juta keluarga muslim kelas menengah atas Indonesia, 71 persen diantaranya berada di Jawa. Dan dari sekitar 4,0 juta keluarga muslim sejahtera di Jawa ini, 2,0 juta diantaranya berada di Jabodetabek dan 1,0 juta lainnya tersebar di Bandung Raya, Surabaya Raya, Yogyakarta Raya, Semarang Raya dan Malang Raya,” ujar Peneliti dari IDEAS Askar Muhammad pada diskusi pemaparan hasil riset IDEASTalk dengan tajuk ‘Ekonomi Kurban 2020’, yang dilakukan secara daring, Rabu (15/7/2020).

IDEAS memproyeksikan pasar hewan kurban terbesar ada di Jabodetabek dengan permintaan 184.000 ekor sapi (41 persen) dan 673.000 ekor kambing-domba (36 persen).

Keseluruhan wilayah aglomerasi utama Jawa diproyeksikan membutuhkan 273.000 ekor sapi dan 995.000 ekor kambing-domba. Dengan sentra ternak nasional berada di daerah pedesaan Jawa dan luar Jawa, maka setiap Idul Adha selalu menjadi momentum keriuhan arus perdagangan hewan kurban. 

“Arus perdagangan utama hewan kurban ini kami proyeksi terjadi dari sentra sapi potong di Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, serta dari sentra kambing-domba di Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah, menuju pasar utama kurban nasional yaitu Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Malang dan Semarang,” katanya.

IDEAS juga menyebutkan, kesenjangan persebaran tidak hanya terjadi pada potensi kurban saja, mustahik atau penerima daging kurban juga terdistribusi secara tidak merata.

Potensi penerima kurban terbesar secara umum datang dari daerah pedesaan Jawa dan luar Jawa, dimana kelas bawah muslim dengan daya beli rendah banyak berada. 

“Mustahik muslim dengan pengeluaran per kapita di bawah Rp 500.000 per bulan yang dipandang paling berhak menerima daging kurban (mustahik prioritas) diperkirakan berjumlah 9,3 juta keluarga. Potensi mustahik prioritas terbesar ini datang dari Jawa, yaitu 6,4 juta keluarga,” ujar Askar.

Dia menambahkan bila kelas bawah menengah muslim dengan pengeluaran per kapita Rp 500.000-750.000 per bulan yang tergolong rentan miskin turut diperhitungkan, maka mustahik kurban melonjak menjadi 22,9 juta keluarga.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X