IHSG Diproyeksi Melemah Pekan Depan, Berikut Sentimennya

Kompas.com - 19/07/2020, 19:00 WIB
Ilustrasi: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGIlustrasi: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018).
Penulis Mutia Fauzia
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pekan depan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan melemah.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, pekan depan IHSG diperkirakan melemah dengan support di level 5.069 sampai 4.985 dan resistance di level 5.116 sampai 5.139.

"Pasar Saham masih akan dipengaruhi peningkatan kasus infeksi Covid-19 di berbagai negara bagian Amerika Serikat (AS) dan potensi semi lockdown dan penundaan pembukaan ekonomi," jelas Hans Kwee dalam keterangannya, Minggu (19/7/2020).

Baca juga: Pengembang Cowell Pailit, Bagaimana Nasib Konsumen dan Karyawan?

"Perkembangan vaksin Covid-19 selalu jadi perhatian pelaku pasar, tetapi kami perkirakan paling cepat akhir tahun ini vaksin baru ditemukan," sambungnya.

Dia pun mengatakan, pembahasan stimulus baru di AS akan menjadi perhatian pelaku pasar menyusul berakhirnya beberapa stimulus fiskal Amerika di 31 Juli 2020.

Data ekonomi Amerika yang variatif pekan lalu juga akan menjadi perhatian pelaku pasar. Dia memperkirakan, data ekonomi cenderung tidak terlalu baik menyusul peningkatan infeksi Covid-19.

"Pekan ini pelaku pasar menanti data laporan keuangan kuartal III. Merupakan pembuktian apakah perusahaan berbasis teknologi mampu menunjukan kinerja yang baik," ujar dia.

Baca juga: Simak 7 Jurusan Kuliah yang Jadi Incaran HRD

Hans mengatakan, pelaku pasar juga akan menantikan hasil KTT Uni Eropa (UE) di Brussels. Pasalnya, banyak perbedaan antara negara-negara zona Eropa, tetapi pasar berharap ada trobosan dalam pertemuan tersebut.

Banyaknya aspek yang disengketakan Amerika Serikat dan China tetap menjadi perhatian pelaku pasar. Peningkatan ketegangan kedua negara akan menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan.

"Data China tetap menarik dimana terjadi perbaikan pada data PDB dan export import. Memberikan indikasi ekonomi China mulai pulih setelah lockdown ketat akibat pandemi Covid 19," ujar dia.

Baca juga: Sri Mulyani Jawab Kritik: Semua Negara Islam Berutang



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X