Pengaruh COVID-19 Terhadap Kinerja Saham: Studi Kasus China dan AS

Kompas.com - 20/07/2020, 14:30 WIB
Ilustrasi bursa ThinkstockIlustrasi bursa

Per 19 Juli 2020 Jam 15.00 WIB, total jumlah penderita COVID-19 di seluruh dunia mencapai 14,440,411 kasus dengan tingkat kematian 605.148. Belum ada tanda-tanda pandemi ini akan melandai dan berakhir. Bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja pasar modal ?

Tidak ada yang tahu kapan pastinya pandemi ini akan berakhir. Prediksi yang semula dari pertengahan tahun, menjadi akhir tahun 2020, bahkan ada yang menduga akan sampai 2021 dan 2022.

Yang paling mudah dilihat, pelajaran sekolah dan perkuliahan di beberapa kota besar di Indonesia dilakukan secara online hingga akhir tahun ini. Aktivitas seperti resepsi, konser, wisata, bioskop, dan perkumpulan orang dari jumlah besar juga belum tahu kapan dapat dilakukan kembali.

Pembatasan seperti ini tentunya akan berdampak ke ekonomi. Tidak adanya perputaran uang dan aktivitas, yang mengakibatkan pendapatan berkurang bahkan tidak ada. Perusahaan juga mengalami penurunan penjualan dan laba bersih.

Baca juga: Apa Dampak Pandemi Corona ke Bank Kecil?

Pasar modal terutama IHSG, memang sudah mengalami pemulihan ke level 5000an setelah sempat jatuh pada level 3900 pada bulan Maret lalu.

Namun kekhawatiran akan adanya PSBB atau Lockdown lanjutan yang lebih ketat karena COVID-19 yang tidak terkendali, ada kekhawatiran akan kinerja IHSG akan kembali turun.

Semuanya memang mengacu pada COVID-19. Tapi apakah memang benar demikian? Apakah jika COVID-19 tidak terkendali dan diberlakukan PSBB yang ketat maka saham akan turun?

Untuk topik ini, pasar modal China dan Amerika Serikat bisa menjadi studi kasus yang menarik.

Amerika Serikat dan China merupakan ekonomi terbesar pertama dan kedua di dunia. Kebijakan bank sentral dan pertumbuhan ekonomi kedua negara tersebut menjadi acuan utama bagi bank sentral di negara lain hingga naik turunnya harga komoditas.

China, Kasus ditemukan pertama kali, lockdown ketat

China merupakan negara yang menerapkan lockdown dengan ketat. Di kota asal kasus ditemukan pertama kali yaitu Wuhan, lockdown dikenakan sangat ketat. Militer diturunkan untuk menjaga perbatasan antar kota dan dalam kota itu sendiri.

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X