Rudiyanto
Direktur Panin Asset Management

Direktur Panin Asset Management salah satu perusahaan Manajer Investasi pengelola reksa dana terkemuka di Indonesia. Wakil Ketua I Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia periode 2019 - 2022. Penulis buku best seller reksa dana yang diterbitkan Gramedia Elexmedia. Buku Terbaru berjudul "Reksa Dana, Pahami, Nikmati!"

Pengaruh COVID-19 Terhadap Kinerja Saham: Studi Kasus China dan AS

Kompas.com - 20/07/2020, 14:30 WIB
Ilustrasi bursa ThinkstockIlustrasi bursa

Per 19 Juli 2020 Jam 15.00 WIB, total jumlah penderita COVID-19 di seluruh dunia mencapai 14,440,411 kasus dengan tingkat kematian 605.148. Belum ada tanda-tanda pandemi ini akan melandai dan berakhir. Bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja pasar modal ?

Tidak ada yang tahu kapan pastinya pandemi ini akan berakhir. Prediksi yang semula dari pertengahan tahun, menjadi akhir tahun 2020, bahkan ada yang menduga akan sampai 2021 dan 2022.

Yang paling mudah dilihat, pelajaran sekolah dan perkuliahan di beberapa kota besar di Indonesia dilakukan secara online hingga akhir tahun ini. Aktivitas seperti resepsi, konser, wisata, bioskop, dan perkumpulan orang dari jumlah besar juga belum tahu kapan dapat dilakukan kembali.

Pembatasan seperti ini tentunya akan berdampak ke ekonomi. Tidak adanya perputaran uang dan aktivitas, yang mengakibatkan pendapatan berkurang bahkan tidak ada. Perusahaan juga mengalami penurunan penjualan dan laba bersih.

Baca juga: Apa Dampak Pandemi Corona ke Bank Kecil?

Pasar modal terutama IHSG, memang sudah mengalami pemulihan ke level 5000an setelah sempat jatuh pada level 3900 pada bulan Maret lalu.

Namun kekhawatiran akan adanya PSBB atau Lockdown lanjutan yang lebih ketat karena COVID-19 yang tidak terkendali, ada kekhawatiran akan kinerja IHSG akan kembali turun.

Semuanya memang mengacu pada COVID-19. Tapi apakah memang benar demikian? Apakah jika COVID-19 tidak terkendali dan diberlakukan PSBB yang ketat maka saham akan turun?

Untuk topik ini, pasar modal China dan Amerika Serikat bisa menjadi studi kasus yang menarik.

Amerika Serikat dan China merupakan ekonomi terbesar pertama dan kedua di dunia. Kebijakan bank sentral dan pertumbuhan ekonomi kedua negara tersebut menjadi acuan utama bagi bank sentral di negara lain hingga naik turunnya harga komoditas.

China, Kasus ditemukan pertama kali, lockdown ketat

China merupakan negara yang menerapkan lockdown dengan ketat. Di kota asal kasus ditemukan pertama kali yaitu Wuhan, lockdown dikenakan sangat ketat. Militer diturunkan untuk menjaga perbatasan antar kota dan dalam kota itu sendiri.

Setelah dilonggarkan secara perlahan, pengendalian terhadap virus juga dilakukan secara ketat. Ketika terjadi lonjakan jumlah kasus pada bulan Mei, pemerintah China melakukan uji PCR terhadap seluruh penduduk kota Wuhan yang berjumlah 11 juta dalam 2 minggu. Setelah itu, kasus baru tidak ditemukan lagi.

Dengan melihat pertambahan kasus baru di China yang setiap harinya di bawah 100, bisa dikatakan bahwa China mungkin sudah bisa dikatakan sukses menangani COVID-19.

Amerika Serikat, Kasus tertinggi dunia, lockdown relatif longgar

Dengan lebih dari 3.8 juta penderita dan 142 ribu-an kasus kematian, Amerika Serikat merupakan negara yang paling terdampak COVID-19.

Respon awal terhadap penanganan COVID-19 yang dinilai kurang baik, warga yang tidak mengikuti arahan, demo massal, kampanye pilpres, tidak sejalannya pemerintah pusat dan daerah, dan relaksasi atas lockdown merupakan kombinasi penyebab tingginya kasus COVID-19 di Amerika Serikat.

Baca juga: Dua Industri Ini Dinilai Butuh Dua Tahun untuk Pulih dari Dampak Pandemi Covid-19

Dengan melihat pertambahan kasus yang terus mencetak rekor baru setiap harinya, sampai vaksin ditemukan, kelihatannya masih butuh waktu yang panjang bagi Amerika Serikat untuk beroperasi seperti sedia kala.

Kinerja Indeks Saham China dan Amerika Serikat

Per 17 Juli 2020, total kasus Covid-19 di China mencapai 83.660 dan meninggal 4.634 orang. Sementara itu di AS, total kasus mencapai 3.833.716 dan meninggal 142.881 orang

Dengan menggunakan COVID-19 sebagai acuan, seharusnya kinerja saham di Amerika Serikat akan negatif dan kinerja saham di China akan positif.

Berdasarkan kinerja Shanghai Stock Exhange Composite Index (SHCOMP) sebagai acuan untuk saham China dan Index S&P 500 (SPX) sebagai acuan untuk saham Amerika Serikat, dari awal tahun hingga 17 Juli 2020 yang diambil dari situs Bloomberg, sebagai berikut:

Kinerja Year To Date 17 Juli 2020 Indeks Komposit Shanghai vs S&P 500

dok Rudiyanto/Bloomberg saham china as

Sejak awal tahun, kinerja SHCOMP ternyata sudah positif 5,38 persen sesuai dengan pemulihan ekonomi dan aktivitas di sana. Sementara SPX juga sudah hampir kembali ke level awal tahun dengan pertumbuhan -0.19 persen.

Sebagai gambaran, Indonesia sendiri yang belum menunjukkan tanda-tanda kasus melandai dan PSBB yang masih diperpanjang, sejak awal tahun hingga tanggal 17 Juli 2020 membukukan kinerja -20,56 persen.

Pasar AS Cepat Pulih

Mengapa kinerja saham di Amerika Serikat bisa pulih dengan cepat, walaupun COVID-19 masih menjadi masalah besar di negara tersebut?

Untuk COVID-19, memang benar untuk kasus penderita baru mengalami pertambahan. Namun untuk tingkat kematian mengalami perkembangan positif dari yang sebelumnya di atas 2000 orang per hari menjadi di bawah 1000 orang per hari.

Kemudian dengan banyaknya kasus pasien dengan gejala ringan atau tidak ada gejala sama sekali, membuat sebagian dari perekonomian tetap berjalan seperti biasa. Dengan demikian, perekonomian tidak benar-benar berhenti seluruhnya.

Baca juga: New Normal, Harapan Pemerintah Pulihkan Ekonomi dari Dampak Pandemi

Dalam konteks pasar modal, nilai / harga dari indeks saham merupakan faktor dari permintaan dan penawaran. Jika permintaan lebih besar dari penawaran, maka harga akan naik. Sebaliknya jika permintaan lebih sedikit dari penawaran, maka harga akan turun.

COVID-19 membuat Bank Sentral di Amerika Serikat mengucurkan stimulus terbesar dalam sejarah ke sektor keuangan dan sektor riil. Bentuk stimulus bisa dalam bentuk relaksasi syarat pinjaman, pemberian pinjaman, hingga bantuan langsung tunai.

Stimulus ini membuat uang yang beredar di masyarakat bertambah. Dalam konteks pasar modal, uang beredar sama dengan permintaan. Secara tidak langsung, kebijakan stimulus membuat permintaan lebih besar dari penawaran sehingga harga paper asset seperti saham mengalami kenaikan.

Mengapa IHSG di Indonesia belum pulih di awal tahun meskipun bank sentral juga melakukan kebijakan yang sama?

Dalam kondisi ketidakpastian , dana asing cenderung akan lebih memilih untuk membeli aset di negara maju dibandingkan negara berkembang (flight to quality). Dengan hanya ditopang oleh dana investor individu dan institusi lokal, IHSG memang bisa naik tapi cenderung terbatas.

Dan ketika situasi sudah membaik dan dana asing kembali masuk, maka kombinasi dari investor lokal dan asing baru bisa membuat IHSG mengalami kenaikan lebih cepat.

Faktor COVID-19 memang akan menjadi penghambat kenaikan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, bukan lagi menjadi satu-satunya penyebab harga saham naik turun.
Demikian artikel ini, semoga bermanfaat

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.