Kurangi 3 Kebiasaan Boros Ini Agar Bisa Menabung dan Investasi

Kompas.com - 20/07/2020, 15:14 WIB
Ilustrasi menabung, mengelola keuangan ShutterstockIlustrasi menabung, mengelola keuangan

Hidup di zaman transaksi serba nontunai (cashless) itu menguntungkan. Misalnya, semenjak ada aplikasi dompet digital, kita tak perlu lagi repot membawa uang tunai dalam jumlah besar di dompet atau menyimpan uang receh kembalian.

Pilihan pembayaran nontunai kini beragam, mulai dari kartu debit, kartu kredit, hingga aplikasi dompet digital. Semuanya menawarkan kemudahan bertransaksi saat belanja online maupun offline.

Namun dibalik semua kemudahan tersebut, Anda bisa menjadi boros jika tidak mampu mengelola keuangan dengan baik. Contohnya, pengeluaran bulanan membengkak akibat keseringan top-up saldo dompet digital dan cicilan paylater tak terasa terus bertambah.

Menjadi boros itu jelas bukanlah hal baik. Jangan sampai gara-gara keseringan transaksi cashless membuat Anda tak punya tabungan dan investasi. Jangan biarkan pengeluaran tak terkendali dan utang menumpuk gara-gara keseringan transaksi nontunai untuk keperluan konsumtif.

Jangan sampai gaji Anda hanya numpang lewat setiap bulan karena sudah habis atau pas-pasan untuk biaya hidup dan bayar cicilan. Saatnya Anda merubah kebiasaan boros menjadi kebiasaan baik agar Anda bisa menabung dan berinvestasi.

Kendali keuangan ada pada Anda. Pelan-pelan saja berubahnya, pastikan Anda sudah meniatkan diri untuk memiliki keuangan yang sehat, bebas hutang, banyak menabung dan investasi.

Selanjutnya, simak ulasan tiga kebiasaan boros finansial dan solusinya, seperti dikutip dari cermati.com.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Kurangi Belanja Online Keperluan Konsumtif

Salah satu kebiasaan boros yang sering terjadi adalah keseringan belanja online. Jujur saja, selama masa pandemi ini sudah berapa kali Anda belanja online untuk hal-hal konsumtif?

Tak dipungkiri, belanja online itu menyenangkan. Tapi, utamakan belanja kebutuhan yang sifatnya penting. Tahan diri Anda agar tidak tergoda rayuan promosi e-commerce yang kini berlomba-lomba memberikan diskon, cashback, cicilan 0% hingga gratis ongkir setiap hari.

Belajarlah membedakan antara belanja kebutuhan dan keinginan. Belanja konsumtif itu boleh, asal tidak berlebihan. Akan lebih baik jika Anda punya bujet sendiri untuk pos belanja konsumtif.

Selanjutnya, paksakan diri Anda untuk menabung dan investasi di awal bulan atau segera setelah Anda gajian. Jangan sebaliknya, setelah gajian buru-buru check-out keranjang belanjaan online.

2. Kurangi Beli Jajan/Makanan Online

Kebiasaan yang satu ini memang tidak mudah dikurangi, tapi bila terlalu sering dilakukan jelas bisa menimbulkan keborosan. Contohnya, Anda suka sekali kopi, selama WFH (work from home). Coba cek sudah berapa botol liter kopi yang Anda beli?

Harga kopi susu kekinian 1 literan sekitar Rp80.000, ditambah ongkir Rp20.000, total Rp100.000. Apabila dalam sebulan Anda memesan kopi sebanyak 15 kali, maka total pengeluaran untuk kopi adalah Rp1,5 juta. Pengeluaran ini belum termasuk jajan kue atau makanan kekinian lainnya.

Kemudahan belanja makanan/minuman online jelas membuat Anda merasa senang. Namun, sebaiknya hal ini Anda kurangi agar isi rekening Anda tidak semakin tipis. Solusi yang bisa Anda lakukan adalah membatasi frekuensi beli makanan dari luar.

Lakukan penghematan bertahap. Belajarlah untuk masak makanan Anda sendiri, perbanyaklah konsumsi makanan sehat seperti perbanyak sayuran dan buah-buahan agar tubuh Anda semakin sehat. Lalu, uang dari hasil penghematan beli makanan online ini bisa Anda alokasikan ke rekening tabungan dan investasi.

Baca Juga: Menabung Rp1 Juta per Bulan Tak Lagi Mustahil, Ikuti 6 Cara Ini

3. Kurangi Gonta-Ganti Gadget

Bagi pecinta teknologi terkini, pasti merasa kalau tidak memiliki gadget terbaru akan merasa tertinggal. Teknologi akan terus berkembang dan setiap tahunnya pasti akan ada gadget terbaru dirilis. Contohnya, gadget ponsel pintar. Bila diamati, kurang dari satu tahun, setidaknya satu brand merk ponsel ternama akan merilis satu produk terbaru.

Disadari atau tidak, masyarakat zaman now jadi lebih suka gonta-ganti gadget seperti ponsel pintar karena mengikuti tren terkini. Hal ini jelas termasuk dalam pemborosan, dan masuk dalam kategori kebutuhan konsumtif.

Sebaiknya Anda lebih bijak lagi sebelum memutuskan untuk beli gadget. Pastikan alasan Anda membeli adalah karena kebutuhan bukan keinginan. Pahami bahwa gadget itu bukanlah sebuah aset investasi karena nilai barang dari suatu teknologi (gadget) akan mengalami penurunan.

Tak Perlu Tunda Menabung dan Investasi

Pemborosan itu bisa dikendalikan. Caranya, segera sadari kebiasaan yang membuat Anda boros. Kurangi kebiasaan tersebut dan mulailah untuk menabung dan investasi. Anda tak akan merugi dengan mengurangi kebiasaan boros finansial. Justru sebaliknya, Anda akan merasa lebih bahagia jika sehat finansial, plus punya rekening tabungan dan investasi.

 

Artikel ini merupakan hasil kerja sama antara Kompas.com dengan Cermati.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab sepenuhnya Cermati.com.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X