Selama Diperintah Erdogan, Bagaimana Sebenarnya Kondisi Ekonomi Turki?

Kompas.com - 22/07/2020, 10:33 WIB
Foto yang dirilis Kantor Kepresidenan Turki memperlihatkan Presiden Recep Tayyip Erdogan mengunjungi Hagia Sophia di Istanbul pada 19 Juli 2020. Pada 10 Juli 2020, pengadilan tinggi Turki mengubah status Hagia Sophia dari museum sejak 1935 menjadi masjid. AFP PHOTO/TURKISH PRESIDENTIAL PRESS OFFICE/HANDOUTFoto yang dirilis Kantor Kepresidenan Turki memperlihatkan Presiden Recep Tayyip Erdogan mengunjungi Hagia Sophia di Istanbul pada 19 Juli 2020. Pada 10 Juli 2020, pengadilan tinggi Turki mengubah status Hagia Sophia dari museum sejak 1935 menjadi masjid.

JAKARTA, KOMPAS.com - Turki dan presidennya, Recep Tayyip Erdogan, jadi sorotan dunia terkait kebijakannya mengubah fungsi hagia Sophia menjadi masjid. Pada awal Juli lalu, Erdogan mengumumkan kalau status Hagia Sophia adalah masjid.

Hagia Sophia adalah satu situs warisan dunia UNESCO yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Istanbul. Selama ini, tempat bersejarah tersebut difungsikan sebagai museum sejak tahun 1930-an atau setelah revolusi di Turki yang dipimpin Kemal Ataturk.

Sikap pemerintah Turki yang mengubah bangunan peninggalan Romawi Timur itu memicu kontroversi dunia. Ini karena Hagia Shopia sebelumnya adalah katedral Kristen Ortodoks yang dibangun oleh Kaisar Byzantium Justinian I pada abad keenam.

Sebagai informasi, Erdogan saat ini menjabat sebagai Presiden Turki. Dia sebelumnya menduduki posisi Perdana Menteri sejak tahun 2003 hingga 2014. Sebelum memimpin Turki, Erdogan adalah Wali Kota Istanbul periode 1994-1998. 

Baca juga: Bandingkan dengan Turki, Sri Mulyani Sebut Ekonomi Indonesia Relatif Stabil

Pada 2017 lalu, bersama partainya AKP, Erdogan yang sudah tak bisa lagi menjabat perdana menteri, mendorong dilakukannya refrendum untuk mengubah konstitusi sistem parlementer ke presidensial, sehingga membuatnya bisa kembali berkuasa di Turki.

Lalu, bagaimana kondisi ekonomi Turki selama masa pemerintahan Erdogan?

Dilansir dari CNBC, Rabu (22/7/2020), kondisi ekonomi Turki bisa dikatakan tengah terperosok dalam krisis dan belum juga pulih sejak beberapa tahun lalu.

Lira, mata uang Turki, anjlok di level paling rendah terhadap valuta asing pada Mei 2020 lalu. Sementara itu, inflasi pada bulan Juni dilaporkan cukup tinggi yakni sebesar 12,6 persen.

Setali tiga uang, cadangan devisa Turki juga menyusut drastis sehingga tak bisa berbuat banyak untuk menutup pengeluaran impor barang maupun utang luar negerinya. Menurut para analis ekonomi, sejauh ini belum tampak adanya perbaikan dalam waktu dekat.

Baca juga: Segini Harga Jet Tempur Eurofighter Typhoon yang Mau Diborong Prabowo

"Lira masih overvalue. Belum lagi utang luar negeri yang terus meningkat dalam mata uang asing. Sepertinya lira akan kembali terdepresiasi dalam beberapa bulan ke depan jika ada intervensi kebijakan fiskal," kata Can Selcuki, Direktur Pelaksana Istanbul Economics Research.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Erick Thohir Prediksi Proses Vaksinasi Covid-19 Memakan Waktu Hingga 9 Bulan

Erick Thohir Prediksi Proses Vaksinasi Covid-19 Memakan Waktu Hingga 9 Bulan

Whats New
2021, Bank Bukopin Ganti Nama Jadi Bank KB Bukopin

2021, Bank Bukopin Ganti Nama Jadi Bank KB Bukopin

Whats New
Besok, Pemerintah Lelang SUN Maksimal Rp 40 Triliun

Besok, Pemerintah Lelang SUN Maksimal Rp 40 Triliun

Earn Smart
Menhub: Bakal Ada Kota Baru Dekat Pelabuhan Patimban bernama 'Kota Rebana'

Menhub: Bakal Ada Kota Baru Dekat Pelabuhan Patimban bernama "Kota Rebana"

Whats New
Bahas Antisipasi Banjir, Luhut Wanti-wanti soal Klaster Baru Covid-19

Bahas Antisipasi Banjir, Luhut Wanti-wanti soal Klaster Baru Covid-19

Whats New
Patimban Mulai Beroperasi Desember 2020, Menhub Ingin Ekspor yang Lebih Besar

Patimban Mulai Beroperasi Desember 2020, Menhub Ingin Ekspor yang Lebih Besar

Whats New
Realisasi Anggaran Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Capai Rp 431,54 Triliun

Realisasi Anggaran Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Capai Rp 431,54 Triliun

Whats New
Ada Lonjakan Kasus Covid-19, Erick Thohir Minta Masyarakat Tak Lengah

Ada Lonjakan Kasus Covid-19, Erick Thohir Minta Masyarakat Tak Lengah

Whats New
MenkopUKM Tekankan 3 Hal Dorong UMKM 'Go Digital', Apa Saja?

MenkopUKM Tekankan 3 Hal Dorong UMKM "Go Digital", Apa Saja?

Whats New
Dukung Pemerintah, Enesis Group Luncurkan Kampanye #EnesisSafeTravel

Dukung Pemerintah, Enesis Group Luncurkan Kampanye #EnesisSafeTravel

Rilis
IHSG dan Rupiah Terjun Bebas di Akhir November

IHSG dan Rupiah Terjun Bebas di Akhir November

Whats New
Pasar Keuangan Optimistis Skenario Vaksin Covid-19 Pulihkan Ekonomi Tahun 2021

Pasar Keuangan Optimistis Skenario Vaksin Covid-19 Pulihkan Ekonomi Tahun 2021

Whats New
Walhi Nilai Perpres Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional Bisa Rugikan Lingkungan Hingga Negara

Walhi Nilai Perpres Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional Bisa Rugikan Lingkungan Hingga Negara

Whats New
Usaha Logistik AirAsia Siap Bantu Distribusi Vaksin Covid-19

Usaha Logistik AirAsia Siap Bantu Distribusi Vaksin Covid-19

Rilis
Masih Belum Terima Subsidi Gaji dari Pemerintah? Ini Cara Mengadukannya

Masih Belum Terima Subsidi Gaji dari Pemerintah? Ini Cara Mengadukannya

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X