[POPULER DI KOMPASIANA] Pencalonan Pilwalkot Gibran | Obituari Sapardi | Bisa Masak Sebelum Menikah?

Kompas.com - 25/07/2020, 15:05 WIB

KOMPASIANA--Resmi! Akhirnya putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka mendapatkan rekomendasi dari Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri untuk maju sebagai calon Wali Kota Solo di Pilkada 2020.

Namun, sesaat setelah mendapat rekomendasi tersebut, politik dinasti dan dinasti politik kembali menjadi sorotan menjelang pelaksanaan Pilkada 2020.

Tidak sedikit yang menganggap kalau majunya putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming, dalam pemilihan wali kota Solo menjadi tonggak suburnya politik dinasti di Indonesia.

Besar kemungkinan, Gibran-Teguh mendapat dukungan dari partai-partai pemilik kursi di Kota Solo. Artinya, pencalonan mereka akan melawan kotak kosong.

Selain kabar menganai pencalonan Gibran, pada Minggu (19/07) Indonesia kehilangan sastrawan sekaligus pujangga, Sapardi Djoko Damono.

Berikut ini 5 konten menarik dan terpopuler di Kompasiana dalam sepakan:

1. Karier Politik Gibran dan AHY, Langkah Jokowi Lebih Taktis daripada SBY?

Putra sulung Presiden Jokowi pindah haluan: dari seorang pebisnis kini bergerak ke dunia politik.

Hal ini tentu saja dibarengi dengan rekomendasi yang ia dapat dari Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri untuk maju sebagai calon Wali Kota Solo di Pilkada 2020.

Kalau melihat lebih jauh, menurut Kompasianer Gobin Dd, langkah Jokowi terbilang taktis: secara tidak langsung dia mempersiapkan Gibran untuk mengikuti jejak yang sama.

"Jika Gibran berhasil memenangi kontestasi di Solo, ini bisa menjadi loncatan untuk langkah yang lebih besar. Dia sudah menunjukkan diri sebagai pemimpin politis," lanjutnya. (Baca selengkapnya)

2. Gibran Polah Jokowi Kepradah, Menang Ra Kondang Kalah Ngisin-isini

Meski ada kemungkin pasangan Gibran-Teguh akan melawan kotak kosong pada Pilkada Solo 2020, jalannya tidaklah mudah.

Sebab, pada kesempatannya kali ini, menurut Kompasianer R. Sugiarti, Gibran mengorbankan kredibilitas ayahnya, yaitu Jokowi. Istilah Jawa yang tepat untuk menggambarkan ini, lanjutnya, anak polah bapa kepradah.

"Anak Polah Bapa Kepradah, karena tingkah polahnya Gibran yang tiba-tiba memutuskan untuk maju sebagai Cawalkot Solo pada Pilkada 2020 sekarang, maka Jokowi pun harus ikut kepradah atau terciprat masalah," tulis Kompasianer R. Sugiarti.

Lantas, apa yang mesti dikhawatirkan Gibran ketika melawan kotak kosong? (Baca selengkapnya)

3. Setelah Hujan Bulan Juni: Obituari Sapardi Djoko Damono

Sastrawan Indonesia Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020) pukul 09.17 WIB di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan.

Pada satu pertemuan di FIB Universitas Indonesia, kenang Kompasianer Khirsna Pabichara, Sapardi Djoko Damono berkata kepadanya, , "Tidak usah jauh-jauh mencari ilham. Tubuhmu adalah puisi."

Lewat karya-karyanya Sapardi kerap kali menuntun kita dalam pencarian kearifan dan kebijaksanaan.

Memang tidak perlu jauh-jauh mencari kebahagiaan, tulis Kompasianer Khirsna Pabichara, sebab kebahagiaan itu ada di dalam diri kita sendiri.

"Mengapa hujan bulan Juni begitu arif? Sebab, dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu," lanjutnya. (Baca selengkapnya)

4. Longgarnya Pengawasan Protokol Kesehatan KAI Bikin Penumpang Kereta Cemas

Kompasianer Hendra Wardhana menceritakan pengalamannya ketika naik kereta dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta pada Sabtu, (18/07) untuk pulang kampung.

Setelah lolos pemeriksaan dokumen, tulisnya, calon penumpang dipersilakan boarding.

Kompasianer Hendra Wardhana tidak termasuk calon penumpang yang harus menyertakan surat bebas Covid-19 karena meski ia menumpang kereta eksekutif, karena rangkaian Joglosemarkerto tidak termasuk kereta jarak jauh.

"Agak rancu memang kebijakan KAI ini. Protokol kesehatan yang diterapkan justru berpatokan pada jenis kereta, bukan pada jarak perjalanannya," lanjutnya.

Namun yang membuat Kompasianer Hendra Warhana deg-degan itu saat ia mendapat penumpang lain dekatnya yang berulang kali bersin.

"Seorang penumpang yang duduk di kursi nomor 5 berulang kali bersin. Parahnya ia tak menggunakan masker," tulis Kompasianer Hendra Wardhana melanjutkan. (Baca selengkapnya)

5. Masih Pentingkah Skill Memasak Jadi Syarat untuk Menikah?

Belum lama ini warganet dikagetkan dengan pernyataan Dinda Hauw karena malam pertama pernikahannya makan mie instan, bahkan dibuatkan oleh suaminya.

Warganet kemudian mencibir pasangan muda tersebut seperti, Masak nasi dan mie instant belom bisa? Ini mau terlihat sok princess atau emang dasarnya gak punya basic skill aja?"

Kompasianer Cindy Carneta kemudian bertanya-tanya: memangnya kengapa jika seorang wanita tak bisa memasak?

"Perihal kodrat? Sepertinya masih banyak sekali anggota dari masyarakat di Indonesia yang memegang erat prinsip bahwa kodrat seorang wanita haruslah bisa dan mahir dalam memasak dan skill memasak ini menjadi salah satu elemen penting dalam pernikahan," lanjutnya. (Baca selengkapnya)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.