Kompas.com - 27/07/2020, 12:02 WIB

"Namun, di sisi lain, donasi dari luar juga terus menyusut dan terbatasnya instrumen ekonomi. Kondisi ini membuat pemerintah dalam kondisi sulit untuk melindungi ekonomi warganya," kata dia lagi.

Bahkan, menurut laporan Bank Dunia, lebih dari seperempat warga Palestina hidup di bawah garis kemiskinan sebelum datangnya virus corona.

Pasca-pandemi, jumlah warga miskin diperkirakan meningkat tajam, antara lain sebesar 30 persen di Tepi Barat dan 64 persen di Jalur Gaza.

Baca juga: Pemerintah: Indonesia Punya Peluang Selamat dari Jurang Resesi

Yang lebih mencolok adalah tingkat pengangguran kaum muda Palestina yang berada di level 38 persen. Angka pengangguran ini sangat mengkhawatirkan, jauh di bawah rata-rata negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Dengan kondisi sulit seperti sekarang yang ditambah dengan semakin intensifnya blokade Israel, tumbuhnya ekonomi digital diharapkan bisa mengurangi kesenjangan ekonomi di Palestina.

"Ekonomi digital dapat mengatasi hambatan geografis, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lebih banyak tenaga kerja bagi warga Palestina," terang Shankar.

Di Palestina, mulai banyak bermunculan startup yang didirikan pemuda-pemuda Palestina. Populasi kaum muda yang banyak dan melek internet membuat ekonomi digital cukup berkembang di negara itu.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Resesi

"Namun, warga Palestina harus dapat mengakses sumber daya yang sama dengan tetangga mereka. Mereka juga harus dapat membangun infrastruktur digital sesegera mungkin," ungkap Shankar.

Jaringan internet di Palestina bisa dibilang cukup tertinggal. Saat negara lain mulai mengembangkan spektrum 5G, wilayah Tepi Barat masih didominasi jaringan 3G, bahkan 2G di Gaza. Sementara akses layanan 4G banyak didapatkan di wilayah yang berdekatan dengan Israel.

Nelayan Palestina bernama Mouad Abu Zeid (kanan) dan rekan-rekannya membawa perahu yang terbuat dari 700 botol plastik kosong di sebuah pantai di Rafah di Jalur Gaza selatan, Selasa (14/8/2018). (AFP/Said Khatib) Nelayan Palestina bernama Mouad Abu Zeid (kanan) dan rekan-rekannya membawa perahu yang terbuat dari 700 botol plastik kosong di sebuah pantai di Rafah di Jalur Gaza selatan, Selasa (14/8/2018). (AFP/Said Khatib)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.