Cerita Perajin Tas Kulit, Omzet Anjlok 50 Persen akibat Virus Corona

Kompas.com - 27/07/2020, 13:12 WIB
Perajin tas kulit di Bogor yang mengaku omzetnya terpangkas 50 persen akibat pandemi virus corona. KOMPAS.com/ Kiki SafitriPerajin tas kulit di Bogor yang mengaku omzetnya terpangkas 50 persen akibat pandemi virus corona.

 

Menurut dia tas kulit asli, tentunya aksesori yang mendukung haruslah bersifat premium.

Sementara itu, Tan mengaku supali bahan baku kulit yang ia peroleh diproduksi di Karawang dan Kalimantan, dalam bentuk yang sudah siap pakai.

Namun, bahan baku tersebut sudah disuplai oleh pihak-pihak yang memberi pesanan kepada Tan, sehingga Tan hanya perlu melengkapinya dengan bahan pendukung pembuatan tas saja.

Baca juga: Dari Cemilan Rambut Nenek, Ryan Raup Omzet Rp 100 Juta

Kondosi pandemi Covid-19 ini memang benar-benar memukul pengusaha UMKM, meskipun pemerintah telah menggelontorkan stimulus untuk UMKM, nyatanya hal ini dirasa tidak cukup.

Tan mengaku, dengan adanya permodalan pun belum cukup membantu karena permodalan hanya akan digunakan untuk biaya operasional, modal kerja dan gaji pegawai.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Adapun hal yang terpenting menurut Tan adalah daya beli masyarakat yang kembali tumbuh. Terutama untuk produk-produk UMKM.

Jika daya beli masyarakat tumbuh maka biaya belanja modal yang dikeluarkan akan berputar menghasilkan keuntungan, namun jika daya beli berkurang, otomasis pembiayaan usaha hanya untuk menutupi operasional saja.

Baca juga: Jualan Starter Kit Berkebun Bisa Raup Omzet Rp 200 Juta Sebulan

Dan hal yang menjadi beban, adalah cara untuk melunasi pinjaman tersebut. Jika keuntungan yang diperoleh belum maksimal, pelunasan pendanaan tentunya tidak mudah.

Walaupun ada restrukturisasi kredit, hal ini nyatanya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pelaku usaha.

“Pengennya sih ada tambahan modal, tapi kan kalau belum ada orderan saya takut gimana mau bayar pegawai. Saya ingin bisa punya anak buah, tapi kan harus jelas (gaji) mingguannya. Dulu saya punya anak buah 10 orang sampai 15 orang dengan bayaran sekitar Rp 600.000 seminggu,” jelas dia.

Untuk membangkitkan UMKM pemerintah merealisasikan dana Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk sektor koperasi dan usaha mikro kecil menengah (KUMKM).

Baca juga: Dampak Covid-19, Omzet Warteg di Bawah 50 Persen

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Rully Indrawan menjelaskan, realisasi belanja program PEN untuk sektor KUMKM hingga periode 21 Juli 2020 mencapai Rp 11,84 triliun.

Namun, menurut Rully realisasi dana tersebut cenderung lambah penyerapannya, karena minimnya sosialisasi kepada para pelaku UMKM.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X