Rugi Rp 10 Triliun di Semester I, Ini yang Dilakukan Garuda untuk Perbaiki Kinerja

Kompas.com - 02/08/2020, 13:31 WIB
Ilustrasi pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia. SHUTTERSTOCK/LEONY EKA PRAKASAIlustrasi pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membukukan rugi bersih sebesar 712,72 juta dollar AS atau setara Rp 10,34 triliun (kurs Rp 14.500 per dollar AS) sepanjang semester I-2020, berdasarkan laporan keuangan yang belum diadudit.

Capaian tersebut, berkebalikan dengan kinerja Garuda Indonesia di periode sama tahun 2019 yang membukukan laba besih sebesar 24,11 juta dollar AS atau setara Rp 349,5 miliar.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, pandemi sangat berdampak pada kinerja keuangan maskapai berplat merah tersebut.

Baca juga: Garuda Indonesia Pastikan Bakal Bayar KIK EBA Mandiri GIAA01

Rata-rata frekuensi penerbangan turun drastis menjadi 100 dari sebelumnya 400 penerbangan per hari. Jumlah penumpang Garuda Indonesia juga mengalami penurunan tajam hingga 90 persen.

"Pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan terhadap kinerja perseroan, karena adanya pembatasan pergerakan dan penerbangan pada masa pandemi," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Minggu (2/8/2020).

Kondisi ini sejalan dengan kinerja pendapatan perseroan yang juga turun drastis 58,18 persen, menjadi 917,28 juta dollar AS di sepanjang Januari-Juni 2020 dari periode yang sama di 2019 yang sebesar 2,19 miliar dollar AS.

Capaian pendapatan usaha itu ditunjang pertumbuhan pendapatan penerbangan tidak berjadwal sebesar 392,48 persen, menjadi 21,54 juta dollar AS dari periode sama di tahun sebelumnya sebesar 4,37 juta dollar AS

Adapun pendapatan penerbangan berjadwal tercatat turun menjadi sebesar 750,25 juta dollar AS. Sementara perseroan membukukan pendapatan lainnya sebesar 145,47 juta dollar AS.

Di sisi lain, penurunan pendapatan usaha perseroan turut diikuti penurunan beban usaha menjadi sebesar 1,64 miliar dollar AS, dari sebelumnya sebesar 2,10 miliar dollar AS.

"Pandemi Covid-19 mengantarkan industri penerbangan dunia berada pada titik terendahnya di sepanjang sejarah," tambah Irfan.

Mengantisipasi ini, lanjutnya, Garuda Indonesia bakal terus memperkuat langkah pemulihan kinerja seoptimal mungkin, agar mendorong perbaikan capaian perseroan. Fokusnya mengupayakan perbaikan fundamental perseroan dengan terukur dan berkelanjutan.

Baca juga: Bos Garuda: Bisnis Kargo Menyenangkan karena Enggak Perlu Rapid Test

Upaya pemulihan kinerja dilakukan secara menyeluruh pada lini bisnis perseroan, meliputi langkah optimalisasi pendapatan penumpang penerbangan berjadwal, layanan kargo udara, hingga penerbangan charter.

Di samping itu, perseroan turut menjalankan langkah strategis dari aspek pengelolaan biaya, melalui upaya negosiasi biaya sewa pesawat, restrukturisasi hutang, hingga implementasi efisiensi di seluruh lini operasional guna menyelaraskan tren supply & demand di masa pandemi.

"Kendati berada di tengah situasi sulit, Garuda Indonesia optimistis bahwa dengan upaya pemulihan kinerja yang telah dilakukan dan dengan dukungan penuh pemerintah serta soliditas stakeholder penerbangan, perseroan dapat terus bertahan dan kembali bangkit”, tutup Irfan.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X