Pacu Substitusi Impor, Kemenperin Minta Industri Kosmetik Gunakan Bahan Lokal

Kompas.com - 02/08/2020, 14:27 WIB
Ilustrasi kosmetik. ronstikIlustrasi kosmetik.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian ( Kemenperin) terus memacu substitusi impor industri kosmetik dalam negeri dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal sebagai bahan baku.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Doddy Rahadi mengatakan, memanfaatkan sumber daya alam lokal membuat target Indonesia menjadi negara industri yang tangguh bisa terwujud.

"Guna mencapai tujuan tersebut, diperlukan struktur industri nasional yang kuat, dalam, sehat, dan berkeadilan. Sasaran lainnya adalah industri yang berdaya saing tinggi di tingkat global serta industri yang berbasis inovasi dan teknologi," kata Doddy dalam siaran pers, Minggu (2/8/2020).

Baca juga: Jual 20 Persen Sahamnya, Perusahaan Kosmetik Kim Kardashian Kini Bernilai Rp 14,2 Triliun

Untuk meningkatkan kapabilitas industri kosmetik, perlu mengoptimalkan teknologi agar bisa menghasilkan inovasi. Pengoptimalan teknologi dalam industri sesuai dengan arah peta jalan Making Indonesia 4.0.

Menurutnya, Indonesia mampu tumbuh karena memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara-negara penghasil produk jamu dan kosmetik berbahan alami lainnya, seperti China, Malaysia, maupun Thailand.

Apalagi, produk kosmetik saat ini menjadi sebuah tren atau gaya hidup, dan konsumennya tidak hanya kaum perempuan saja. Konsumen semakin terlihat menggemari produk perawatan kulit (skincare) alami.

"Indonesia memiliki potensi tanaman obat yang banyak tumbuh di berbagai wilayah. Jumlahnya sekitar 30.000 spesies dari 40.000 spesies tanaman obat di dunia. Ini sangat prospektif untuk dikembangkan karena kebutuhan yang cukup potensial di pasar lokal maupun global," papar Doddy.

Sementara itu, merujuk data BPS, kinerja industri kimia, farmasi dan obat tradisional (termasuk sektor kosmetik) mengalami pertumbuhan yang gemilang sebesar 5,59 persen pada semester I 2020.

Bahkan di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19, kelompok manufaktur ini mampu mencatatkan nilai ekspor sebesar 317 juta dollar AS, naik 15,2 persen dibanding semester I 2019.

"Indikator tersebut menunjukkan bahwa industri farmasi Indonesia tumbuh dengan pesat dan mampu menyediakan sekitar 70 persen dari kebutuhan obat dalam negeri," pungkas Doddy.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X