Kopi Tapanuli yang Kini Menjadi Tulang Punggung Ekonomi Masyarakat

Kompas.com - 03/08/2020, 16:33 WIB
Petani kopi di daerah Tapanuli mendapatkan pelatihan pemilahan kopi dok Toba Pulp LestariPetani kopi di daerah Tapanuli mendapatkan pelatihan pemilahan kopi

JAKARTA, KOMPAS.com - Budaya ngopi semakin melekat dan menjadi kebiasaan hampir setiap orang. Tak hanya di desa, namun juga perkotaan.

Di Jakarta misalnya, banyak kafe yang menyediakan kopi premium dengan harga yang bisa dibilang tidak murah.

Salah satu daerah pemasok kopi dengan kualitas terbaik adalah daerah Tapanuli Sumatera Utara. Selama ini daerah tersebut menjadi sentra kopi arabika. Kontur pegunungan di Tapanuli membuat kopi jenis ini tumbuh subur dan memiliki rasa yang khas.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumatera Utara, pada 2018, produksi kopi dari wilayah ini mencapai 43.000. Jumlah tersebut menguasai 22 persen pangsa kopi arabika nasional, yang menurut data Kementerian Pertanian, total produksi secara nasional kopi jenis ini mencapai 187.031 ton.

Baca juga: Jago Coffee Luncurkan Aplikasi untuk Pesan Kopi

Meski kopi arabika dari Tapanuli dihargai mahal, namun kondisi berbeda dialami oleh petani kopi yang ada di daerah ini. Banyak petani kopi yang justru mengalami kesulitan ekonomi.

Karena itulah, kopi mendapatkan predikat sebagai “Sigarar Utang ” ( pelunas hutang ). Ini karena kopi yang telah dipanen kemudian dijual untuk membayar utang pupuk para petani.

Terbatasnya Pemahaman

Salah seorang petani kopi di Tapanuli, Marojahan Simangunsong dari Desa Siantar Utara Kabupaten Toba merasakan hal ini. Terbatasnya pemahaman mengenai nilai ekonomi kopi membuat dirinya dan rekan petani lain tidak menggeluti pertanian kopi sebagai tulang punggung perekonomian. Bertani padi dan jagung menjadi yang utama, sedangkan kopi hanya sekunder.

Pada 2008, Maraojahan mulai melakukan penanaman kopi dengan cara konvensional, yakni menanam kopi dengan jarak tanam rapat agar banyak kopi yang dihasilkan. Padahal, cara bertanam seperti itu justru membuat petumbuhan dan produktifitas tanaman kopi tidak maksimal.

Pola bertanam tersebut mulai berubah saat Marojahan dan petani lainnya mendapat pengetahuan melalui pelatihan yang diadakan PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) dan Pusat Penelitian Kakao dan Kopi Indonesia (Puslitkoka) pada tahun 2018.

Baca juga: Manisnya Laba Usaha Kopi Literan di Tengah Pandemi

Dalam pelatihan tersebut, para petani diajarkan mengenai budidaya kopi yang baik sesuai dengan Good Agricultural Practice ( GAP ) dari Puslitkoka melalui pemangkasan, pemupukan, penyiangan secara rutin. Termasuk memberikan pohon pelindung.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X