Apa Saja yang Terjadi Saat Resesi Ekonomi Indonesia Tahun 1998?

Kompas.com - 06/08/2020, 08:20 WIB
Mahasiswa se-Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi mendatangi Gedung MPR/DPR, Mei 1998, menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto. Sebagian mahasiswa melakukan aksi duduk di atap Gedung MPR/DPR.

Kompas/Eddy Hasby (ED) *** Local Caption *** http://kom.ps/AB2H32 
KOMPAS/EDDY HASBYMahasiswa se-Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi mendatangi Gedung MPR/DPR, Mei 1998, menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto. Sebagian mahasiswa melakukan aksi duduk di atap Gedung MPR/DPR. Kompas/Eddy Hasby (ED) *** Local Caption *** http://kom.ps/AB2H32

 

Sementara pada saat itu cadangan devisa tinggal sekitar 14,44 miliar dollar AS.

3. Pasar modal babak belur

Anjloknya rupiah secara dramatis, menyebabkan pasar uang dan pasar modal juga rontok, bank-bank nasional dalam kesulitan besar dan peringkat internasional bank-bank besar, bahkan juga surat utang pemerintah terus merosot ke level di bawah junk atau menjadi sampah.

Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) anjlok ke titik terendah, 292,12 poin, pada 15 September 1998, dari 467,339 pada awal krisis 1 Juli 1997. Sementara kapitalisasi pasar menciut drastis dari Rp 226 trilyun menjadi Rp 196 triliun pada awal Juli 1998.

Baca juga: Kalau Kita Kerja Keras, Kemungkinan Lolos dari Resesi Sangat Memungkinkan...

Di pasar uang, dinaikkannya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi 70,8 persen dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) menjadi 60 persen pada Juli 1998 (dari masing-masing 10,87 persen dan 14,75 persen pada awal krisis).

Hal ini menyebabkan kesulitan bank semakin memuncak. Perbankan mengalami negative spread dan tak mampu menjalankan fungsinya sebagai pemasok dana ke sektor riil.

4. Banyak perusahaan bangkrut dan PHK

Ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat, bangkrut. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal juga insolvent atau nota bene bangkrut.

Sektor yang paling terpukul terutama adalah sektor konstruksi, manufaktur, dan perbankan, sehingga melahirkan gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pengangguran melonjak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir 1960-an, yakni sekitar 20 juta orang atau 20 persen lebih dari angkatan kerja.

Baca juga: Ekonomi RI Minus 5,32 Persen, Sudah Masuk Resesi?

Akibat PHK dan naiknya harga-harga dengan cepat ini, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan juga meningkat mencapai sekitar 50 persen dari total penduduk. Banyak orang menyerbu toko-toko sembako dalam suasana kepanikan luar biasa, khawatir harga akan terus melonjak.

Pendapatan per kapita yang mencapai 1.155 dollar/kapita tahun 1996 dan 1.088 dollar/kapita tahun 1997, menciut menjadi 610 dollar/kapita tahun 1998, dan dua dari tiga penduduk Indonesia disebut Organisasi Buruh Internasional (ILO) dalam kondisi sangat miskin pada tahun 1999 jika ekonomi tak segera membaik.

Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan, perekonomian yang masih mencatat pertumbuhan positif 3,4 persen pada kuartal ketiga 1997 dan nol persen kuartal terakhir 1997.

Lalu terus menciut tajam menjadi kontraksi sebesar 7,9 persen pada kuartal I 1998, 16,5 persen kuartal II 1998, dan 17,9 persen kuartal III 1998. Demikian pula laju inflasi hingga Agustus 1998 sudah 54,54 persen, dengan angka inflasi Februari mencapai 12,67 persen.

Baca juga: Ekonom: Indonesia Belum Masuk Resesi meski Ekonomi Tumbuh Negatif 5,32 Persen

5. Ekspor melempem

Di sisi lain, sektor ekspor yang diharapkan bisa menjadi penyelamat di tengah krisis, ternyata sama terpuruknya dan tak mampu memanfaatkan momentum depresiasi rupiah, akibat beban utang, ketergantungan besar pada komponen impor, kesulitan trade financing, dan persaingan ketat di pasar global.

Selama periode Januari-Juni 1998, ekspor migas anjlok sekitar 34,1 persen dibandingkan periode sama 1997, sementara ekspor nonmigas hanya tumbuh 5,36 persen.

6. Presiden Soeharto turun setelah 32 tahun berkuasa

Resesi ekonomi berlanjut lagi menjadi krisis sosial kemudian ke krisis politik yang memaksa Presiden Soeharto saat itu harus meletakan kekuasannya yang sudah didudukinya sejak tahun 1965 dan digantikan wakilnya, BJ Habibie.

Krisis yang membuka borok-borok kerapuhan fundamental ekonomi ini dengan cepat merambah ke semua sektor. Banyak perusahaan besar di era Orde Baru belakangan diketahui tak memiliki pondasi yang kokoh.

Baca juga: Bisnis Bob Hasan, Julukan Raja Hutan dan Kedekatan dengan Soeharto

Pemerintah tegaskan Indonesia belum resesi

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, Indonesia masih belum memasuki fase resesi. Menurut dia, sebuah negara baru dapat dikatakan masuk ke fase resesi apabila realisasi pertumbuhan ekonomi secara tahunan atau year on year (yoy) terkontraksi selama dua kuartal berturut-turut.

"Biasanya dalam melihat resesi itu, dilihat year on year untuk dua kuartal berturut-turut. Tidak menggunakan Q to Q," kata Sri Mulyani dalam keterangannya seperti Rabu (6/8/2020).

Oleh karenanya, dengan teori tersebut Indonesia belum dapat dikatakan masuk ke fase resesi. Pasalnya, jika dilihat secara tahunan, realisasi pertumbuhan ekonomi RI baru terkontraksi satu kali tahun ini.

Dengan terkontraksinya pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020, Sri Mulyani berkomitmen untuk menjaga perekonomian nasional pada kuartal berikutnya, agar terhindar dari zona negatif. Sehingga, Indonesia tidak masuk ke fase resesi.

"Kalau kuartal III bisa kita hindarkan, maka kita insya Allah tidak secara teknikal mengalami resesi (resesi ekonomi 2020)," ucap Sri Mulyani.

Baca juga: Cerita Sri Mulyani Rampas Rp 1,2 Triliun dari Tommy Soeharto


(Sumber: KOMPAS.com/Fika Nurul Ulya | Editor: Bambang Djatimo, Sakina Setiawan, Erlangga Djumena)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Simak Biaya dan Cara Mengurus Sertifikat Tanah di Kantor BPN

Simak Biaya dan Cara Mengurus Sertifikat Tanah di Kantor BPN

Whats New
Produksi Aluminium Inalum Operating Capai 243.000 Ton di 2021

Produksi Aluminium Inalum Operating Capai 243.000 Ton di 2021

Rilis
Sederet Rencana Bisnis BNI 2022: Akuisisi Bank, Terbitkan Saham Baru, hingga 'Green Bond'

Sederet Rencana Bisnis BNI 2022: Akuisisi Bank, Terbitkan Saham Baru, hingga "Green Bond"

Whats New
BI Lakukan Pengurangan Likuiditas, GWM Naik Bertahap Per 1 Maret 2022

BI Lakukan Pengurangan Likuiditas, GWM Naik Bertahap Per 1 Maret 2022

Whats New
OJK Luncurkan Taksonomi Hijau Indonesia, Apa Itu?

OJK Luncurkan Taksonomi Hijau Indonesia, Apa Itu?

Whats New
Kemenperin: Mudah-mudahan Harga Gula Stabil Sepanjang 2022

Kemenperin: Mudah-mudahan Harga Gula Stabil Sepanjang 2022

Whats New
Minyak Goreng Mahal, KPPU Duga Ada Praktik Kartel: Naiknya Kompak, padahal Punya Kebun Sawit Sendiri-sendiri...

Minyak Goreng Mahal, KPPU Duga Ada Praktik Kartel: Naiknya Kompak, padahal Punya Kebun Sawit Sendiri-sendiri...

Whats New
Mau Cek Sertifikat Tanah di Kantor BPN? Begini Tahapannya

Mau Cek Sertifikat Tanah di Kantor BPN? Begini Tahapannya

Spend Smart
Salah Pesan Barang? Ini Cara Membatalkan Pesanan di Shopee

Salah Pesan Barang? Ini Cara Membatalkan Pesanan di Shopee

Spend Smart
OJK Proyeksi Kredit Perbankan Tumbuh 7,5 Persen Tahun Ini

OJK Proyeksi Kredit Perbankan Tumbuh 7,5 Persen Tahun Ini

Whats New
Buat Pemula, Ini Cara Mendapatkan Uang dari YouTube

Buat Pemula, Ini Cara Mendapatkan Uang dari YouTube

Earn Smart
Kapan Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter Tersedia di Pasar Tradisional?

Kapan Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter Tersedia di Pasar Tradisional?

Whats New
Kemenperin: Kebutuhan Gula Nasional Defisit 3,8 Juta Ton, Harus Dipenuhi dengan Impor

Kemenperin: Kebutuhan Gula Nasional Defisit 3,8 Juta Ton, Harus Dipenuhi dengan Impor

Whats New
Bangun Ibu Kota Baru 'Nusantara', Kominfo Siapkan Infrastruktur Telekomunikasi 5G

Bangun Ibu Kota Baru 'Nusantara', Kominfo Siapkan Infrastruktur Telekomunikasi 5G

Whats New
IHSG Ditutup Menguat Kembali ke Atas 6.600, Asing Borong Saham TLKM, ARTO, dan BBCA

IHSG Ditutup Menguat Kembali ke Atas 6.600, Asing Borong Saham TLKM, ARTO, dan BBCA

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.