Pengusaha: Kami Ingin Industri Smelter Sinergi dengan Industri Hilir

Kompas.com - 07/08/2020, 17:52 WIB
Ilustrasi nikel ShutterstockIlustrasi nikel

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Alexander Barus mengungkapkan keinginan para pengusaha untuk membangun produk hilir yang berkualitas.

“Kami ingin industri smelter ada sinergi dengan industri hilir. Makanya, FINI bisa menjadi mitra yang produktif dengan pemerintah. Jadi, cita-cita kita untuk membangun produk nikel, terutama produk hilir yang high tech bisa cepat dilakukan,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat (7/8/2020).

FINI berharap kepada pemerintah agar dapat memberikan kemudahan izin dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Baca juga: GoFood Tebar Promo, Ada Diskon 50 Persen

Pemerintah didorong terus meneningkatan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri. Kebijakan hilirisasi diyakini dapat memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, di antaranya melalui capaian nilai ekspor.

“Maka itu, pentingnya peran industri smelter. Jadi, kita tidak lagi mengekspor tanah dan air saja, tetapi sudah menjadi sebuah produk yang high end,” kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Dody Widodo.

Dody menjelaskan, dalam upaya memacu daya saing industri logam dasar, pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas UU No. 4 Tahun 2009, tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang mengamanatkan tentang peningkatan nilai tambah melalui pengolahan sumber daya mineral.

Selain itu, pemerintah juga telah menerbitkan UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, yang diturunkan dalam pembentukan peraturan pelaksana berupa Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Sumber Daya Alam.

Baca juga: Siap-Siap, Diskon Belanja 75 Persen Bertebaran di Mal dan Marketplace

"Dewasa ini, industri smelter nikel yang menghasilkan NPI, feronikel, nikel hidrat dan stainless steel telah tumbuh pesat. Hingga saat ini, telah beroperasi sekitar 19 smelter yang tersebar di Jawa Timur, Banten, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara,” kata Dody

Bahkan ucapnya, sudah ada yang dalam proses pembangunan smelter nikel yang mengolah nikel kadar rendah menjadi bahan baku baterai yang berlokasi di Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Banten.

Saat ini terdapat 118 kawasan industri di Indonesia, dengan total luas lahan sekitar 51.000 hektare. Sebanyak 81 kawasan dengan luas 36.000 hektare berada di Pulau Jawa.

Sisanya tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Hingga akhir 2020 nanti, Kemenperin menargetkan jumlahnya bertambah menjadi 156 kawasan industri dengan luas lahan 65.000 hektare.

Baca juga: Erick Thohir Enggan Jadi Relawan Uji Coba Vaksin Covid-19, Apa Sebabnya?



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X