Di Tengah Pandemi, Masihkah Bisnis Penjualan Bendera Merah Putih Berkibar?

Kompas.com - 11/08/2020, 12:06 WIB
Kartini Nasrul (75), seorang penjahit sekaligus pemilik toko perlengkapan upacara, CV Ampera di Proyek Senen Blok III, KOMPAS.com/ KIKI SAFITRIKartini Nasrul (75), seorang penjahit sekaligus pemilik toko perlengkapan upacara, CV Ampera di Proyek Senen Blok III,

JAKARTA, KOMPAS.com – Kemeriahan perayaan HUT RI tentunya menjadi momen-momen paling ditunggu-tunggu seluruh masyarakat Indonesia, termasuk orang-orang yang terlibat dalam pasar pernak-pernik terkait bendera Merah Putih.

Betapa tidak, momen perayaan hari kemerdekaan yang hanya terjadi setahun sekali ini sangat identik dengan berbagai perayaan berbau nasionalisme yang tidak luput dari sentuhan kain Merah Putih di segala penjuru Tanah Air.

Di banyak tempat, pemasangan aksesori seperti umbul-umbul dan bendera Merah Putih menjadi pelengkap yang wajib untuk menambah semarak hari kemerdekaan Indonesia. Warga pun banyak yang berlomba untuk memasang dekorasi–dekorasi menarik bertema kemerdekaan, seperti bendera kecil di sepanjang pagar, ataupun di depan gapura atau gang.

Baca juga: Erick Thohir: Bantuan Rp 2,4 Juta Per UMKM Disalurkan dalam 1-2 Minggu ke Depan

Sementara itu, di perkantoran, gedung dan tempat-tempat publik, pemasangan dekorasi Merah Putih dengan ukuran panjang yang berada di dalam dan luar bangunan umumnya selalu dilakukan. Hal inilah yang membuat bisnis bendera ataupun pernak-pernik terkait HUT RI kerap mendapatkan omzet yang besar setiap tahunnya.

Nah, bagaimana kondisinya di kala pandemi Covid-19  seperti sekarang ini?

Kartini Nasrul (75), seorang penjahit sekaligus pemilik toko perlengkapan upacara CV Ampera di Proyek Senen Blok III, mengaku, secara umum permintaan akan bendera Merah Putih dan pernak-pernik penunjang lainnya meningkat menjelang perayaan HUT RI.  Namun, pemesanan perlengkapan upacara dalam hal ini seragam paskibra memang mengalami penurunan.

“Kalau bendera hias, bendera Merah Putih, dan umbul-umbul masih bagus. Yang berkurang itu setelan paskibraka,” kata Kartini kepada Kompas.com, Senin (10/8/2020).

Kartini mengatakan, beberapa kedutaan dan perusahaan yang biasanya merayakan upacara tahunan tidak merayakannya pada tahun ini, sehingga terjadi penurunan permintaan perlengkapan upacara.

“Yang merayakan tiap tahun banyak yang tidak merayakan, mereka bilang karena tidak ada perintah dari pusat. Padahal, saya sudah nyetok banyak. Tapi, enggak apa-apa, bisa untuk tahun depan,” jelas dia.

Penurunan pemesanan bahkan terjadi sampai dengan 10 persen saat ini untuk pakaian paskibra. Padahal, umumnya pemesanan perlengkapan upacara biasanya sudah dimulai sejak bulan Juni yang datang dari sekolah, perusahaan, dan kedutaan.

“Biasanya mulai Juni sudah dipesan, tapi sekarang yang pesan hanya Taspen, Bank Mandiri, dan Kedutaan Korea. Sementara Jerman hanya pesan alat paskibra untuk tiga orang saja. Mereka bilang baju masih ada, jadi hanya untuk perlengkapan saja,” jelas Kartini.

Wanita yang sudah menekuni bidang jahit–menjahit sejak 45 tahun ini mengaku, untuk penjualan musiman perlengkapan upacara, ia meraup omzet yang tidak sedikit. Ia mengaku pendapatannya untuk penjualan bendera sekitar Rp 200 juta per bulan.

Baca juga: Singapura Resesi, Ekonomi Kuartal II Minus 42,9 Persen Dibandingkan Sebelumnya

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X