KILAS

Layani 41 Kawasan Industri, PGN Siap Dukung Terus Pertumbuhan Ekonomi

Kompas.com - 11/08/2020, 19:23 WIB
Ilustrasi aktivitas di sektor industri. DOK. Humas PGNIlustrasi aktivitas di sektor industri.

Rachmat pun menyebut, PGN siap mendukung program pengembangan kawasan industri sebagai penggerak ekonomi sesuai dengan Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) 2020-2024, yang salah satunya adalah Kawasan Industri Batang.

“Kemungkinan ke depan, dilaksanakan setelah selesainya pembangunan jalur pipa gas bumi Cirebon-Semarang, PGN akan mengembangkan infrastruktur gas CNG ataupun LNG,” jelasnya.

Selain itu, imbuhnya, PGN akan membangun dan mengelola pipa gas di ruas Sei Mangkei-Dumai untuk mendorong pertumbuhan Kawasan Industri baru di sepanjang jalur pipa tersebut.

Baca juga: PGN Berupaya Dorong Kemajuan Industri di Kawasan Ekonomi Eksklusif Sei Mangkei

Menurutnya, kawasan industri telah menjadi senada dengan proses industrialisasi dan dianggap sebagai alat yang kuat untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing, dan pertumbuhan ekonomi.

Penyelesaian implementasi kebijakan harga gas

Lebih lanjut, Rachmat menjelaskan, PGN sebagai subholding gas juga dalam proses penyelesaian implementasi kebijakan harga gas terhadap industri tertentu sebesar 6 dollar AS per Million British Thermal Unit (MMBTU).

Hal ini pun sesuai dengan Keputusan Menteri (Kepmen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 89.K/ 2020.

Komitmen ini optimistis akan memberikan dampak positif dalam rangka pemulihan perekonomian industri nasional yang sempat terpukul akibat pandemik Covid-19.

Baca juga: PGN Berlakukan Harga Gas 6 Dollar AS per MMBTU untuk Industri Tertentu

Rachmat menuturkan, dengan harga 6 dollar AS per MMBTU sesuai Kepmen ESDM, industri penerima manfaat yang menggunakan gas bumi sebagai energi pokok diperkirakan dapat memperoleh efisiensi cukup signifikan.

”Oleh karena itu, PGN grup sebagai penyalur gas utama konsisten untuk memonitoring keandalan pasokan dan kondisi operasional jaringan pipa gas agar pemenuhan kebutuhan gas tidak terhambat,” katanya.

Dia mencontohkan, industri keramik menargetkan untuk mendongkrak daya saing, sementara industri sarung tangan karet harus produksi lebih karena permintaan sarung tangan karet yang tinggi di tengah pendemi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X