Resesi Ekonomi dan Kepercayaan Publik pada Jokowi

Kompas.com - 12/08/2020, 11:40 WIB
Indonesia mencatatkan penurunan ekonomi sebesar -5,32% pada kuartal II 2020, turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut Badan Pusat Statistik pada Rabu (05/08). Ini adalah kontraksi ekonomi pertama di Indonesia dalam lebih dari 20 tahun terakhir. Aloysius Jarot Nugroho/ANTARAIndonesia mencatatkan penurunan ekonomi sebesar -5,32% pada kuartal II 2020, turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut Badan Pusat Statistik pada Rabu (05/08). Ini adalah kontraksi ekonomi pertama di Indonesia dalam lebih dari 20 tahun terakhir.

Indonesia berada di ambang resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2020 tercatat minus 5,32 persen (YoY). Kontraksi ini lebih dalam dari ekspektasi pemerintah di kisaran 4,3 hingga 4,8 persen.

Dengan realisasi tersebut, sejumlah pihak menyebut Indonesia sudah memasuki fase resesi. Pasalnya, jika dilihat dari perbandingan kuartal ke kuartal (QtQ), ekonomi Indonesia sudah berada di level negatif dua kali berturut-turut.

Secara QtQ, pada kuartal I-2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 2,41 persen. Lalu, pada kuartal II, minus 4,9 persen.

Meski demikian, pemerintah menilai Indonesia belum mengalami resesi ekonomi. Sebuah negara dikatakan jatuh ke jurang resesi jika realisasi pertumbuhan ekonomi secara tahunan atau year on year (YoY) berada di level negatif pada dua kuartal berturut-turut.

Meski memburuk, realisasi ekonomi pada dua kuartal masih disyukuri oleh Presiden Jokowi. Pada kuartal I, ekonomi Indonesia masih bertumbuh 2,97% secara YoY di saat negara lain banyak yang negatif. Kontraksi Indonesia pada kuartal kedua jauh lebih ringan dibanding yang dialami negara-negara lain.

“Kita patut bersyukur meski kita minus 5,32 persen, coba kita lihat, Italia minus 17,3 persen, Jerman minus 11,7 persen, Prancis minus 19 persen, AS minus 9,5 persen,” kata Jokowi

Sedikitnya tujuh negara di dunia telah resmi jatuh ke jurang resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19. Di Asia Tenggara, Singapura dan Filipina telah masuk jerat resesi. Indonesia disebut-sebut akan menjadi negara berikutnya.

Jatuh tidaknya Indonesia pada jurang resesi akan sangat bergantung realisasi ekonomi di kuartal ketiga. Pemerintah sendiri merasa optimistis kondisi ekonomi pada kuartal ketiga akan membaik bahkan bertumbuh sehingga Indonesia bisa terlepas dari jerat resesi.

Belanja pemerintah menjadi stimulus untuk menggerakkan ekonomi pada kuartal ketiga. Presiden Jokowi meminta seluruh jajarannya untuk bekerja keras mempercepat penyerapan anggaran pemulihan ekonomi. Penyerapan stimulus yang cepat menjadi kunci bagi Indonesia untuk lolos dari kondisi ekonomi yang lebih berat.

Namun, para ekonom tak sepenuhnya sepakat dengan optimisme pemerintah. Pasalnya, dengan penanganan pandemi Covid-19 yang masih buruk, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III akan berkontraksi lebih dalam lagi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X