Jokowi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2021 Capai 5,5 Persen, Realistis?

Kompas.com - 14/08/2020, 18:32 WIB
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato dalam rangka penyampaian laporan kinerja lembaga-lembaga negara dan pidato dalam rangka HUT ke-75 Kemerdekaan RI pada sidang tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2020). Kepala Negara memilih menggunakan pakaian adat Sabu, Nusa Tenggara Timur, pada sidang tahunan yang digelar di tengah pandemi Covid-19 kali ini. ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAYPresiden Joko Widodo menyampaikan pidato dalam rangka penyampaian laporan kinerja lembaga-lembaga negara dan pidato dalam rangka HUT ke-75 Kemerdekaan RI pada sidang tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2020). Kepala Negara memilih menggunakan pakaian adat Sabu, Nusa Tenggara Timur, pada sidang tahunan yang digelar di tengah pandemi Covid-19 kali ini.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketidakpastian perekonomian global yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19, diproyeksi masih akan berlanjut hingga 2021.

Kendati demikian, Presiden Joko Widodo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2021 berada di kisaran 4,5 hingga 5,5 persen. Hal tersebut disampaikan Jokowi dalam pidato Nota Keuangan RAPBN 2021.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Teuku Riefky, menilai, target yang dipatok pemerintah tersebut masih realistis.

"Dengan berbagai asumsi bahwa dampak pandemi sudah perlahan bisa dilewati dan sudah bisa memasuki masa recovery di 2021, saya rasa target pertumbuhan 4,5 persen hingga 5,5 persen cukup realistis," katanya, kepada Kompas.com, Jumat (14/8/2020).

Baca juga: Jokowi Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 4,5 Persen hingga 5,5 Persen pada 2021

Selain itu, dengan terpuruknya realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2020, maka pemulihan ekonomi akan dapat melaju lebih cepat pada tahun 2021.

Sebagaimana diketahui, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini berada di rentang minus 0,4 persen hingga 1 persen.

"Semakin rendah pertumbuhan ekonomi tahun ini, justru pertumbuhan ekonomi di masa recovery akan lebih tinggi karena jatuhnya sudah cukup dalam," ujarnya.

Kendati demikian, Riefky menyoroti pelaksanaan kebijakan fiskal pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), agar dapat merealisasikan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,5 hingga 5,5 persen.

Menurut dia, pemerintah perlu menciptakan disiplin fiskal melalui pengetatan kembali defisit APBN.

"Artinya dengan beban hutang yang kian bertambah, pemerintah harus kembali fokus membangun disiplin fiskal sekalinya kita sudah masuk tahap recovery," ucapnya.

Baca juga: Defisit 2021 Dipatok 5,5 Persen, Jokowi: Dibiayai Sumber Pembiayaan yang Aman



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X