Luhut: India Lockdown, Ekonominya Jeblok!

Kompas.com - 15/08/2020, 10:17 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Pandjaitan memberikan keterangan pers di Kantor Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Senin (9/3/2020). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIMenko Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Pandjaitan memberikan keterangan pers di Kantor Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Senin (9/3/2020).

"Begitu terapkan PSBB, India lockdown, negara mana (lakukan) lockdown, boom! Ekonominya jeblok. Sekarang orang puji kita tidak melakukan lockdown ini," kata jenderal purnawirawan TNI AD ini.

Luhut juga menyinggung para intelektual yang kerap mengkritik pemerintah. Menurut dia, para intelektual tersebut mengkritik tanpa mengetahui informasi secara utuh.

Baca juga: Luhut Ingin Turis Asing Bekerja dari Bali

"Kita harus bersaing global. Kita enggak boleh introvert, hanya lihat ke dalam. Kita harus lihat ke luar. Kadang-kadang saya sedih melihat intelektual kita itu, hanya melihat sepotong-sepotong, kemudian memberikan komentar," ucap Luhut.

Banyak bandara internasional di Indonesia

Luhut menyebut Indonesia terlalu banyak memiliki bandara berskala internasional. Saat ini Indonesia memiliki 30 bandara berskala internasional.

“Saya melihat airlines hub yang kita miliki terlalu banyak. Tadi saya singgung itu, ada 30 landasan internasional, kenapa harus ada 30?,” ujar Luhut.

Luhut mengakui dahulu dirinya tak menyadari bahwa bandara berskala internasional di Indonesia terlalu banyak. Setelah melihat hasil dari survei, barulah dia menyadarinya.

Baca juga: Luhut: Saya Sedih, Intelektual Hanya Lihat Sepotong kemudian Beri Komentar...

“Dulu memang mungkin saya termasuk, dulu Pak Menteri Perhubungan juga sama mikirnya. Tapi setelah ada kajian, kita lihat apakah ini enggak kebanyakan, malah yang bikin kebanyakan yang menikmati orang lain,” kata Luhut.

Saat ini, kata Luhut, pemerintah tengah mengkaji mana saja bandara berskala internasional yang akan jadi prioritas.

“Sekarang kami bikin lebih kecil. Kita menjadi pusat, kalau orang mau datang melalui Medan, Jakarta, Jogja, Surabaya, Bali, kemudian Makassar atau Manado. Itu saja yang mau kami lihat sehingga kalau ada konsenterasi itu kita akan jadi lebih hemat,” ucap dia.

(Sumber: KOMPAS.com/Ade Miranti, Akhdi Martin Pratama | Editor: Erlangga Djumena, Yoga Sukmana)

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X