Optimisme Para Pembantu Jokowi soal Perekonomian RI di Tengah Pandemi...

Kompas.com - 16/08/2020, 14:19 WIB
Pekerja menjahit bendera merah putih di kiosnya di kawasan Pasar Senen, Jakarta, Selasa (4/8/2020). Menjelang peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, sejumlah pedagang mengaku penjualan pernak-pernik bendera merah putih mengalami penurunan 50 persen dibanding tahun lalu atau dari produksi 80 bendera per hari menjadi 40 bendera per hari akibat pandemi Covid-19. ANTARA FOTO/INDRIANTO EKO SUWARSPekerja menjahit bendera merah putih di kiosnya di kawasan Pasar Senen, Jakarta, Selasa (4/8/2020). Menjelang peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, sejumlah pedagang mengaku penjualan pernak-pernik bendera merah putih mengalami penurunan 50 persen dibanding tahun lalu atau dari produksi 80 bendera per hari menjadi 40 bendera per hari akibat pandemi Covid-19.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kinerja perekonomian Indonesia kian tertekan di tengah pandemi. Banyak pihak pun memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal kembali negatif pada kuartal III mendatang.

Artinya, Indonesia bakal terperosok pada jurang resesi lantaran pada kuartal II lalu pertumbuhan ekonomi telah mengalami kontraksi cukup dalam, yakni -5,32 persen.

Namun demikian, jajaran kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo masih optimistis dalam memandang kinerja perekonomian RI ke depan.

Baca juga: Bandingkan Ekonomi RI dengan Singapura, Erick Thohir: Kita Lebih Baik daripada Mereka

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri BUMN Erick Thohir misalnya, mereka memandang perekonomian RI masih lebih baik jika dibandingkan dengan beberapa negara lain di dunia, seperti Singapura dan India.

Adapun berikut rangkuman mengenai pendapat para menteri kabinet Presiden Joko Widodo terkait kinerja perekonomian RI:

1. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan pemerintah siap menghadapi resesi karena memiliki persiapan infrastruktur dan program yang kuat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dilansir dari Antara, Sabtu (15/8/2020), Luhut menjelaskan pertumbuhan ekonomi diharapkan bisa tumbuh nol persen atau positif 0,5 persen dan kemungkinan terburuk mencapai negatif 0,5 persen.

"Ya kalau resesi terjadi, ya bisa saja terjadi. Tapi kita siap hadapi itu semua karena infrastruktur yang kita buat, program yang kita buat, eksekusi yang kita buat, kita feel comfortable (masih nyaman)," katanya.

Luhut menjelaskan, istilah comfortable bukan merupakan opini pribadinya. Namun, hal itu muncul lantaran banyak institusi internasional, mulai dari IMF, Bank Dunia hingga berbagai lembaga pemeringkat kredit internasional.

Ia menuturkan secara rutin memberikan paparan mengenai kondisi ekonomi dan penanganan Covid-19 ke lembaga-lembaga tersebut. Hal itu dilakukan juga sebagai upaya mendapatkan masukan atas kebijakan-kebijakan yang dilakukan Indonesia dalam upaya memulihkan ekonomi di tengah pandemi.

Baca juga: Jokowi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2021 Capai 5,5 Persen, Realistis?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.