Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Thailand Minus 12,2 Persen

Kompas.com - 18/08/2020, 14:48 WIB
Penari tradisional Thailand yang mengenakan pelindung wajah tampil di Kuil Erawan, yang dibuka kembali setelah pemerintah Thailand melonggarkan langkah-langkah untuk memerangi penyebaran coronavirus novel COVID-19, di Bangkok pada 4 Mei 2020. Thailand mulai melonggarkan pembatasan terkait dengan COVID -19 pada 3 Mei dengan memungkinkan berbagai bisnis untuk dibuka kembali, tetapi memperingatkan bahwa langkah-langkah yang lebih ketat akan diberlakukan kembali jika kasus meningkat lagi. MLADEN ANTONOV / AFPPenari tradisional Thailand yang mengenakan pelindung wajah tampil di Kuil Erawan, yang dibuka kembali setelah pemerintah Thailand melonggarkan langkah-langkah untuk memerangi penyebaran coronavirus novel COVID-19, di Bangkok pada 4 Mei 2020. Thailand mulai melonggarkan pembatasan terkait dengan COVID -19 pada 3 Mei dengan memungkinkan berbagai bisnis untuk dibuka kembali, tetapi memperingatkan bahwa langkah-langkah yang lebih ketat akan diberlakukan kembali jika kasus meningkat lagi.

BANGKOK, KOMPAS.com - Perekonomian Thailand terkontraksi ke level terburuk dalam lebih dari 20 tahun. Thailand pun terjeblos ke jurang resesi.

Anjloknya pertumbuhan ekonomi Thailand disebabkan dua sektor ekonomi penting negara tersebut, yakni perdagangan dan pariwisata, masih terpukul pandemi virus corona (Covid-19).

Dilansir dari Bloomberg, Selasa (18/8/2020), Konsil Pengembangan Ekonomi dan Sosial Nasional mengumumkan, pertumbuhan ekonomi Thailand minus 12,2 persen pada kuartal II 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini adalah penurunan terbesar sejak Krisis Keuangan Asia pada 1998 silam.

Baca juga: Imbas Corona, Ekonomi Thailand Diprediksi Minus 8,5 Persen di 2020

Adapun pada kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi Thailand tercatat minus 1,8 persen. Menurut definisi teknikal, perekonomian Thailand masuk ke jurang resesi lantaran pertumbuhan ekonomi minus selama dua kuartal berturut-turut.

Outlook ekonomi Thailand tahun ini pun boleh dikatakan salah satu yang paling suram di Asia pada tahun ini. Sebab, perekonomian Thailand sangat mengandalkan ekspor dan pariwisata, yang mana keduanya amat terdampak virus corona.

Ekspor Thailand pada tahun ini diprediksi merosot 10 persen.

Permasalahan kemudian diperparah dengan kuatnya nilai tukar mata uang baht. Sepanjang kuartal II 2020 saja, alias periode April-Juni 2020, nilai tukar baht menguat lebih dari 6 persen, menjadikannya mata uang terkuat kedua di Asia menurut pantauan Bloomberg.

Baca juga: Ekspor Thailand Anjlok 22,5 Persen, Terendah Sejak 2009

"Kami khawatir dengan ekonomi (Thailand), khususnya serapan tenaga kerja, utang yang buruk, dan UKM. Belanja pemerintah masih menjadi kunci pendorong ekonomi tahun ini, karena semua sektor pendorong masih lemah," kata Thosaporn Sirisumphand, sekretaris jenderal Konsil Pengembangan Ekonomi dan Sosial Nasional Thailand.

Lembaga pemerintah tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Thailand menjadi minus 7,3 hingga 7,8 persen sepanjang tahun 2020. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Negeri Gajah Putih tersebut diprediksi minus 5 hingga 6 persen.

Adapun bank sentral Thailand memprediksi pertumbuhan ekonomi minus 8,1 persen pada tahun ini, sementara Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi minus 8,5 persen.

"Kondisi terburuk tampaknya sudah berakhir, namun masih belum ada alasan untuk merasa leha. Dari yang kami ekspektasikan, laju pemulihan ekonomi akan berlangsung secara gradual, dengan masih banyak tantangan yang dihadapi ekonomi Thailand," ungkap Howie Lee, ekonom di OCBC Singapura.



Sumber Bloomberg
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X